Assalamualaikum Wr Wb

Wilujeng sumping ka sadayana di blog abdi, mugia aya manfaatna...
.









Minggu, 29 Mei 2011

Sudah Saatnya...

SAATNYA UNTUK MENIKAH. Buku karya ustadz Mohammad Fauzil Adzim ini berpindah dari toko buku ke rak buku saya secara halal pada tanggal 31 Maret 2008, dibeli tepat saat saya berusia 21 tahun lebih enam hari, tunai. Buku yang tetap terasa “panas” di tangan hingga saya mencapai umur 23 tahun, hehe..
Pernah saya posting singkat di blog lama saya, tak disangka setelah mem-posting beberapa menit kemudian tiba-tiba ada SMS (Short Message Service) masuk ke inbox handphone ganteng saya yang sekarang sudah berpindah tangan (hilang maksudnya). Saya heran juga riang gembira, karena SMS nya dari M-KIOS. Pulsa nyasar kah? Saya kira Telkomsel lagi ngajak bercanda. Tapi setelah diteliti dengan harap-harap cemas dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, pulsa saya beneran terisi Rp 10.000,- (padahal baru isi Rp 25.000,- lho kemarinnya!). Saya tidak tau apakah pulsa ini memang ada yang niat mengirim atau ada yang lagi khilaf salah kirim atau lagi ini mungkin sinyal-sinyal persetujuan dari-Nya atas posting-an saya itu. Bagian terakhir berusaha untuk berprasangka baik (padahal sih ngarep.com) Tapi saya ucapkan syukron katsir, saya doakan semoga yang ngirim atau yang lagi nyesel salah kirim dimurahkan rezekinya dan moga juga sering-sering nyasar ke saya.
Secara sengaja, perkara pulsa nyasar ini mengingatkan saya pada firman Sang Pemilik Cinta yang tertinta pada surat An-Nuur ayat 24, dimana Allah subhanawata’ala memberi garansi mutlak bagi mereka yang ingin menikah (namun) terbersit kekhawatiran tentang kemampuan finansialnya ;
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan (mengkayakan) mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Gimana ngga’ terngiang, baru mosting singkat tentang nikah aja sudah kebagian pulsa Rp 10.000,- gimana kalau direalisasikan (hehehe… ngarang.net).
Menikah. Topik yang digandrungi para bujangers. Kalau ada yang posting topik ini di blog ataupun jejaring sosial lainnya dijamin deh komentar-komentarnya seabreg-abreg. Sebenarnya saya sendiripun masih merasa kurang pantas menulis tentang topik menikah, secara saya sendiri BELUM MENIKAH (eh, kepencet capslock-nya). Tapi ya mau gimana lagi, sudah tuntutan peran, buku yang saya bahas tentang Menikah, bukan jemuran.
Bagi saya pribadi, buku ini membekas tegas dan dalam. Selain karena belinya sambil malu-malu di toko bukunya (waktu itu saya masih kuliah, padahal mah yang jual cuek beybeh, noleh juga ngga’), buku ini memberi pandangan lain, semacam tambahan vitamin wawasan tentang menikah bagi saya yang masih belajar dan meraba-raba “nikah itu benda apa sih?”
Melalui buku ini persepsi saya tentang menikah bergeser sedikit titik koodinatnya, tidak melulu soal yang “indah-indah” saja. Eh, bukan berarti saya menganggap menikah itu tidak indah ya. Maksud saya ada sisi lain yang sering terabaikan oleh pemuda-pemuda seumuran saya waktu itu, yaitu PERSIAPAN pra-nya, alias perlengkapan sebelum bertempur. Karena sebenar-benarnya, suka maupun duka yang terjadi dalam pernikahan adalah hal-hal yang menjadikan pernikahan itu indah nantinya. Menjadi pernak-pernik yang mempercantik pelaku-pelaku didalamnya. Walau jatuhnya tetap tergantung bagaimana pribadi-pribadi itu memaknainya.
Kalau diflash-back, ingat aja dulu waktu awal-awal ngampus, keinginan kuat banget buat menikah, sedini dan secepat mungkin! Tentu saja ini bukan cuma karena faktor konsumsi bacaan dan kajian-kajian yang diikuti, tapi juga faktor “ulah” kakak-kakak senior yang ngidupin kompor ayo-nikah-dini kalau lagi ngumpul (hehehe… siap-siap disetrap). Jadi bener banget memang apa yang Ustadz Fauzil Adzim katakan dalam buku ini, sesuai realita di lapangan, banyak yang baru mendengar satu atau dua kali kajian pernikahan semangatnya buat nikah kuenceng jiddan, padahal ada banyak kesiapan-kesiapan yang harus disiapkan untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Jadi kawan, kembali ke “perlengkapan bertempur” kita tadi. Hal urgent yang sering terlupa namun vital oleh saya waktu itu adalah kesiapan-kesiapan sebelum mengambil keputusan dan menempuh keputusan yang sudah diambil. Yakni Ilmu. Ini bukan soal pengertian nikah saja, atau darimanakah asal bahasanya, lalu apa tujuannya, apa hukumnya, seperti yang saya pikirkan selama ini. Tapi mencakup hal yang lebih luas lagi. ini yang saya lihat dari kehidupan rumah tangga baik itu orang tua saya mapun kakak-kakak tingkat saya yang sudah menikah. Menikah itu akan meliputi bagaimana melayani suami atau istri, hubungan dengan orangtua dan mertua setelah menikah, hubungan dengan tetangga, lingkungan rumah, rahasia rumah tangga, anak-anak, dapur, nafkah, sampai perkara jima’ (ya ampun! Ini hal yang sempat hampir saya lupakan!), itu semua butuh ilmu. Karena orang yang berilmu lebih sulit digoda setan (hr. Turmudzi). “Ilmu adalah syarat benarnya perkataan dan perbuatan, keduanya tidak akan bernilai kecuali dengan ilmu,…” (Ibnu Munir)
Ini menjadi bahan masukan bagi saya yang waktu itu masih ngebet-tapi-kosong agar terhindar (atau setidaknya meminimalisir) masalah yang timbul akibat ketidaksiapan ilmu dan tanggung jawab. “Nikah bukan hanya soal “kita-berdua”, begitu kata salah seorang kakak tingkat saya.
Kemampuan memenuhi Tanggung jawab. Ini pun maknanya luas, tidak seperti yang saya pikir selama ini. Ketika menikah tanggung jawab bukan soal berdua saja. Sang suami akan bertanggung jawab memberi nafkah pada keluarganya, istri bertanggung jawab mendidik anak-anaknya, menjaga harta suaminya, lingkungan masyarakat hingga yang privasi sekali yaitu tanggung jawab kepada kebutuhan biologis, baik istri maupun suami. Kebutuhan biologis berkaitan kemampuan berjima’ (berhubungan suami istri), yang dimulai dengan malam pertama. Saya yakin, yang seumuran saya dulu pikirannya belum sampai ke hal yang satu ini (termasuk saya!). Biar saya sebutkan “3 padahal” : 1. Padahal nikah pengen banget 2. Padahal jima’ merupakan hal penting dalam kehidupan suami istri 3. Padahal berjima’ pun perlu ilmu. Tapi yang “pada kepengen ” itu, jangan kan tau ilmunya, kepikiran kesana saja belum. Lha?
Lari ke soal nafkah. Ada kalimat yang terekat kuat di kepala saya ketika salah seorang kakak saudari seiman saya sedang menjalani proses ta’aruf-nya, yaitu pada bagian nafkah ini. Saat itu kami sedang ngobrol ringan berdua hingga dia berkata “Dek, bagian terpenting itu bukan pekerjaan tetap, tapi tetap bekerja.” Karena pada waktu itu calon suami (yang sekarang sudah menjadi suaminya) memang belum memiliki pekerjaan tetap. Hingga sekarang suaminya masih tetap berstatus tetap bekerja hehe… Namun berbekal ketakwaan dan ikhtiyar serta keyakinan bahwa rezeki-Nya Maha Luas, alhamdulillah baik-baik aja tuh, rezeki datang dari mana saja dan dari cara yang tak terduga. Malah sempet-sempetnya ngasih saya modal buat jualan pulsa :D Cobaan ya pasti ada, kan ini dunia, Bos. Kini mereka telah dikaruniai dua orang jundi. Kata Emak saya, kita kaya karena memberi.
Pekerjaan tetap memang tidak ada hubungan sama sekali dengan kesiapan memberi nafkah. Sudah terbukti di lapangan, Gan. Tak hanya di koran, bahkan kasus-kasus yang terjadi di depan saya sendiri telah memberi pelajaran. Ketebalan kocek suami ternyata belum tentu membawa kebahagiaan anak dan istri. Teman-teman pun pasti pernah menyaksikan sendiri, atau setidaknya baca di koran atau melihat di televisi, tak sedikit suami yang tidak memenuhi hak anak istrinya, dari kalangan pejabat sampai pengusaha. Jadi terbukti kan, seseorang yang memiliki penghasilan yang besar belum tentu memiliki kesiapan untuk memberi nafkah.
Jadi ngejomblo aja? Atau pacaran aja buat latihan? Kalau nyentil soal pacaran jadi teringat dengan status salah seorang teman saya di akun jejaring sosial miliknya, “Buanglah Pacar pada tempatnya.” Soalnya pacar (inai) memang sekali pakai langsung dibuang, disimpan bisa mengotori, hehe.. Memang benar kan?
Dewasa ini, dalam pandangan masyarakat, pacaran menjadi suatu hal wajar. Ya gimana ngga’, tiap hari televisi kita menyiarkan pria dan wanita yang bukan mahrom berduaan berpelukan, belum lagi sinetron dan ghibahtainment yang kisahnya tentang yang itu-itu juga. Tiap hari disodorin itu-itu terus ya lama-lama jadi biasa, dari tingkat anak TK sampai orang tua. Singkatnya, Maksiyat jadi biasa, yang bukan maksiyat malah jadi aneh. Itulah yang masuk ke rumah kita. Hingga menjadi sebuah sudut pandang, “seolah-olah” kalau nikah tanpa pacaran itu rasa-rasanya kurang afdhal.
“Cara untuk menjadi istri yang terbaik, hanyalah melalui suami. cara untuk menjadi suami yang terbaik, hanyalah melalui istri. Tidak bisa melalui pacaran.(Pak Didik Purwodarsono)
Salah seorang murrobiyah saya yang bekerja di Pengadilan Agama memberitahu, bahwa banyak kasus-kasus perceraian lahir dari masalah “salah menilai”, padahal sebelum menikah ada yang sudah berpacaran 3 tahun, bahkan 9 tahun. Sekedar info, seminggu bisa ±10 kasus. Begitulah ketika jalan nafsu yang diambil, keberkahan dan rezekinya berkurang, bahkan bisa aus. Jadi pacaran bukan jaminan.
Sekalipun memilih hidup menjomblo sampai mati ataupun streching dulu dengan pacaran, tanggung jawab akan tetap bertambah. Lha, mati aja  bawa “tanggung jawab”. Bedanya kalau sudah menikah gotongnya berdua. Tapi mati ya tetap gotong sendiri. Hidup ini tanggung jawab. Yang bermalas-malasan pun akan tetap punya tanggung jawab, mempertanggungjawabkan kemalasannya.
Kriteria. “Semakin banyak kriterianya, semakin cepat bermasalah?” Hah? Iya kah? Ada bagian yang paling saya garis bawahi, bagian sebagai “peringatan” untuk diri sendiri juga, mengingat semakin banyaknya jomblo di dunia ini ;
“Ketika seseorang telah menetapkan kriteria yang sangat tinggi, ia akan cenderung sangat peka terhadap hal-hal yang bergeser dari kriterinya.”
Di ibaratkan oleh Ustadz Fauzil Adzim seperti seorang Designer Grafis yang banyak berurusan dengan warna. Bila terdapat perbedaan sedikit saja antara desainnya dan hasil cetakannya, ia bisa merasa terganggu dan kecewa. Padahal bagi yang menikmati, hampir tidak ada perbedaan jika warna magenta dalam karya grafis itu komposisinya sebesar 55% ataukah 50%. Nah, begitulah jadinya kalau kriteria terlalu tinggi. Ketika berjumpa dengan kenyataan setelah menikah malah jadi kecewa, padahal orang lain yang menilai baik sekali. Dan itu bisa menjadi sumber konflik.
Kalau pesan salah satu guru saya, “tidak masalah kita mematok kriteria, asal kita juga senantiasa meng-upgrade diri.” Pengen yang seperti ‘Aisyah tapi nongkrong di diskotik. Ingin yang seperti ‘Ali, bukannya rajin ngaji, malah rajin karaoke. Jangan salahkan kalau tak dapat yang sesuai keinginan. Lah, keinginan dengan usaha Jaka Sembung, alias Ga’ nyambung.
Kesiapan ruhiyah. Ini juga sering kelupaan untuk digali dan diasah. Ngga’ kebayang dulu kalau saya tetap ngebet nikah cuma main modal asal sruduk. Dalam buku ini kesiapan ruhiyah merujuk kepada kondisi seseorang yang mudah menerima kebenaran dikarenakan hatinya telah tersentuh oleh kesadaran agama. Karena hati yang telah terbuka akan risalah-Nya memiliki sikap yang terkendali oleh ketakwaannya. Jika ia menyukai istri atau suaminya, kecintaannya itu melahirkan sikap memuliakan. Jika ia sedang marah atau kesal, kemarahannya tidak membuat ia menzalimi istri atau suaminya. Karena itu Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam berpesan :
“Wanita itu dinikahi karena empat perkara, yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (hr. al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)
Dan perlu digaris bawahi setebal-tebalnya, perkara kesiapan ruhiyah ini sama sekali tidak berkaitan dengan umur.
Saya punya cerita singkat mengenai perihal menikah yang sedang kita bahas ini. Semoga bisa diambil pelajaran. Kisah salah seorang alumni perguruan tinggi negeri di Batam. Besar dalam keluarga yang “beda jalur” dengannya. Sampailah waktunya ketika dia mengajukan seorang laki-laki untuk menjadi pendamping hidupnya. Awalnya tentu saja ditolak. Karena menurut keluarganya terlalu cepat. Ya sudahlah, begitu baginya. Berbekal doa, ikhtiyar dan tawakkal. Itikad baik tak akan terlewat dari pengawasan-Nya.
Saat duduk berdiskusi bertiga dengan kedua orangtuanya, entah bagaimana ceritanya sang Ayah berkata pada Ibunya, “ngapain lama-lama, lagian kan pacaran dalam Islam itu haram.” Si akhwat tentu saja terkaget, begitu juga sang Ibunda. Bukannya apa-apa, dua hari yang lalu baru saja sang Ayah mengatakan, “pacaran ajalah dulu, setahun atau lebih.” Dan dalam tempo dua hari kata-kata itu berputar balik. Satu halangan teratasi. Allah tak pernah membiarkan hamba-Nya sendiri. Dia Sang Penggenggam Hati.
Berikutnya masalah dana. Cekak! Belum lagi tuntutan keluarga yang ingin memenuhi adat. Lagi! Entah bagaimana ceritanya rezeki itu datang dari arah yang tak pernah diduga-duga. Ada saja dana yang mengalir di tengah ikhtiyar dan keyakinannya, bahwa Allah senantiasa Menepati Janji-Nya. Ingat teman, dalam ikhtiyar dan keyakinan, bukan dalam bermalasan, seolah rezeki turun dari langit blas langsung jatuh ke pangkuan.
Selain itu ada hal lain yang bisa kita petik dari goresan singkat cerita beliau ini. Nabung dan mengkondisikan orang tua. Terkadang mentang-mentang merasa masang target nikahnya masih lama, akhirnya urusan nabung ntar-ntar aja deh. Padahal kita tidak tau kapan jodoh itu akan datang, bisa-bisa sebulan atau dua bulan lagi. Kemudian juga bagaimana kita mengkondisikan orangtua, maksudnya adalah bagaimana kita memberi pemahaman kepada orangtua mengenai konsep menikah dalam agama Islam. Bukan cuma kita saja yang paham. Minimal kita sudah men-sharing apa yang kita pahami sedari dini kepada orang tua kita. Kita doakan saja semoga proses mereka berkah dan terangkum dalam ikatan yang suci dan barokah. Aamiin ya Allah…
“Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yg menikah karena ingin memelihara kehormatannya.” (HR.Ahmad 2:251, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah Hadits no. 2518, dan Hakim 2:160).

sumber : kirimn blog temen

Rabu, 23 Maret 2011

"Dedi Abdullah Azzam dalam rangkaian kata"



Ingin kuketuk pintu hatimu
Untuk datang melabuhkan kapalku
Mengajakmu bersama berlayar mengarungi samudera hidup
Untuk mencapai ridha sang Khalik
Ingin kuminta padamu ya Allah
Satu bidadariMu dari jannatul firdaus
Untuk menemaniku berjuang di jalanMu
Bidadari yang terbaik menurutMu
Jika engkau mengijinkanku ya Allah
Aku ingin mengisi hari-hariku saat ini
Menghiasi do’aku dengan namanya
Di setiap munajatku padamu
Di setiap malam di penghujung pagi
Dalam sujud dan dekapan kasih sayangMu
Ya Allah, ya Rab
Jadikanlah diriku sang pencinta
Yang ikhlas dan suci tidak melebihi cintaku padaMu
Jadikan diriku orang yang beruntung
Memiliki apa yang tak mungkin kumiliki
Dan mengharap apa yang tak mungkin kuharapkan
Memiliki dan mengharap karunia dan titipan terindah dariMu
Ya Allah, ya Karim
Ijinkan hambaMu ini berikhtiar untuk itu
Dalam batas-batas syari’at yang telah Engkau gariskan
Dalam hembusan sejuknya iman
Rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imama (QS. 25 : 74)
…….amiin ya rabbal ‘aalamiin……..

Rabu, 02 Maret 2011

Istriku Nantikanku di Pintu Surga

Seorang wanita di hadapanku memang tak secantik Cinderela dengan sepasang sepatu kacanya ataupun semempesona Nirmala dengan tongkat ajaibnya. Tapi dia adalah orang yang paling aku cintai. Istriku.
“  Mas, kok malah ngelamun, pertanyaanku gak di jawab “ aku terkejut dengan cubitan istriku. Aku hanya tersenyum.
“ Orang tua mu masih enggak suka juga ya mas sama aku, aku memang belum bisa ngasih cucu buat mereka “ dia pun melanjutkan pertanyaannya.
“ Kata siapa Dik ?? mereka sayang kok sama kamu “
Keluargaku memang sejak awal tidak menerima kehadirannya, istriku sangat sensitif dengan keluargaku. Ketidak setujan utama keluargaku karna mereka memandang istriku “ jelek “ itu kata mereka. Dengan tubuh pendek dan gendut, menurut mereka dia tak pantas denganku.
Ahh..itu kan kata mereka, buatku dia wanita yang mempesona. Jilbabnya yang membuatnya selalu terlihat anggun, suaranya yang sering melantunkan Al Quran selalu membuatku gemetaran, kesabarannya dalam kesulitan ekonomi kami yang memang karna ketidak setujuan keluargaku, maka kami bagai terasingkan. Buatku, tak apalah aku ingkar pada orangtuaku yang mengajakku pada kebatilan, mereka lebih memilih tahta,kecantikan dan harta. Sedangkan aku ingin seorang wanita yang bisa menuntunku dan mengajakku selalu mengingat Allah.
“ Duh, mas. Enggak usah beliin aku yang macem-macem deh mas. Ini baju kan mahal banget, mendingan buat sedekah atau buat simpanan kita “ katanya.
“ Aahh..kamu ini. Selalu mikirin itu, sekali-kali aku ini pengen buat kamu seneng, malah di protes “ aku pura-pura cemberut di hadapannya.
“ Iya..iya.. maaf yaa sayang . Aku coba ya bajunya “ dia pun melesat masuk ke kamar.
“ Gimana mas ?? “ katanya. Aku hanya terbengong melihatnya.
“ maasss… “ katanya sedikit berteriak. Aku hanya cengengesan tanpa bisa berkata apapun.
“ Kita makan yuk mas, aku siapkan dulu “ katanya.
Baru beberapa langkah, aku melihat istriku memegang perutnya seperti kesakitan yang luar biasa. Lalu terjatuh.
Terdengar suara berdebam kuat di lantai.Aku panik. Aku bingung. Aku segera telpon Ambulance.
Istri ku koma. Sudah 3 minggu dia dalam keadaan seperti ini. Dia terkena Kanker di rahimnya. Kanker yang sudah lama di deritanya. Kenapa..kenapa aku sampai tak tahu dia sedang sakit ?? suami macam apa aku ini.
Laptop kesayanganya aku bawakan untuknya. Dia tak pernah bisa lepas dari laptopnya. Aku paham dengan keadaannya yang selalu sendiri, karna aku bekerja dari pagi hingga malam menjelang.
Aku buka laptopnya. Aku mainkan ayat-ayat suci yang selalu dia nyalakan setiap pagi. Aku begitu sayu untuk mampu menatapnya lekat-lekat. Aku buka satu persatu folder ku buka. Sampai aku menemukan sebuah judul “ CatatanKu “. Aku segera membukanya.
Aku tersenyum membaca ceritanya, di mulai ketika kita ta’aruf. Aku menatapnya sambil berharap dia segera sembuh agar dia bisa menjadi seorang penulis. Matakupun mulai serius ketika kisah kita di mulai dari ketertekanannya. Aku menitikkan air mataku.
Aku membaca dengan lamat-lamat ketika dia menuliskan setiap detik rasa sakitnya. Air mataku makin deras ketika ku membaca bagaimana dia menutupi sakitnya.
“Aku tak mungkin meberi tahunya, sedangkan ekonomi kami belum membaik. Aku tak mau sampai suamiku ikut menanggung kesulitanku. Aku juga enggak mau aku tambah buruk di hadapan keluarganya. Aku yang belum di karunia anak,sekarang harus di timpa musibah sakit seperti ini. Belum tentu keluarganya kasihan padaku, aku takut nanti suamiku yang kena imbasnya. Biarlah sakit ini hanya aku dan Allah yang tahu. Karna aku yakin setelah musibah ini, aku akan di berinya sebuah keindahan yang luar biasa.”
Tak sanggup aku untuk meneruskan membaca kalimat-kalimat yang ada di hadapanku. Aku memilih menutupnya dan aku ingin segera mengadu padaNya.
“ Yaa Robb, segera sembuhkan lah istriku dari sakitnya dan ijinkan aku untuk tetap menjaganya untukMu. Namun jika Engkau ingin menghapuskan jiwa istriku dari segala dosa-dosanya, maka aku ikhlaskan dirinya demi diriMu. Biarkan dia menantikanku di pintu surga. Aamiin “
Tak lama suara “ Tiiit” panjang dari indikator denyut jantungnya.
Aku melihatnya tersenyum begitu manis. Bidadariku, nantikanku dipintu surga Nya.
Wallahua’lam bi Shawwab.

Selasa, 01 Maret 2011

Engkaulah Suami yang Aku Impikan

Ketika engkau mencintaiku, engkau menghormatiku. Dan ketika engkau membenciku, engkau tidak mendzalimiku. (Dr. Ramdhan Hafidz)
Aku masih ingat saat malam pertama kita, saat itu engkau mengajakku shalat Isya’ berjamaah. Setelah berdoa engkau kecup keningku lalu berkata: “Dinda, aku ingin engkau menjadi pendampingku Dunia-Akhirat”. Mendengar ucapan itu, akupun menangis terharu. Malam itu engkau menjadi sosok seperti sayyidina Ali yang bersujud semalam suntuk karena bersyukur mendapatkan sosok istri seperti Siti Fatimah. Apakah begitu berharganya aku bagimu sehingga engkau mensyukuri kebersamaan kita? Malam itu, aku tidak bisa mengungkapkan rasa syukurku ini dengan ucapan. Aku hanya bisa mengikutimu, bersujud di atas hamparan sajadah. Tanpa bisa aku bendung, air mata ini tiada hentinya mengalir karena mensyukuri anugerah Allah yang diberikan padaku dalam bentuk dirimu. Akupun berikrar, aku ingin menjadi sosok seperti Siti Fatimah, dan aku akan berusaha menjadi istri sebagaimana yang engkau impikan.
Dan ternyata sujud itu bukan hanya di saat malam pertama, setiap kali aku terbangun pada akhir sepertiga malam, ku lihat engkau sedang bersujud dengan penuh kekhusu’an. Aku kadang iri dengan keshalihanmu, engkau terlena dalam sujudmu sedang aku berbaring di atas kasur yang empuk dengan sejuta mimpi. Kenapa engkau tidak membangunkan aku? Padahal aku ingin bermakmum padamu agar kelak aku tetap menjadi istrimu di surga. Aku hanya merasakan kecupan hangat melengkapi tidur malamku saat engkau terbangun untuk melakukan shalat malam. Apakah kecupan itu sebagai isyarat agar aku terbangun dari tidurku dan melaksanakan shalat berjamaah bersamamu? Atau karena engkau tidak tega membangunkan aku saat engkau melihat begitu pulasnya aku dalam tidurku? Aku yakin, dengan ketaatanmu pada agama, engkau akan membahagiakanku dunia-akhirat. Tidakkah agama kita mengajarkan bagaimana suami harus menyayangi istri, membuatnya bahagia, melindungi dan membuatnya tersenyum. Dan sebaliknya, istri harus berbakti, melayani dan membuat suaminya terpesona padanya.
Aku tidak peduli siapakah engkau, miskin dan kaya tidak ada bedanya bagiku. Aku hanya tertarik pada sosokmu yang bersahaja dan sederhana. Raut wajahmu yang penuh dengan keikhlasan membuatku ingin selalu menatapnya. Lembutnya sifatmu membuatku yakin bahwa engkau adalah suami yang bisa menerima segala pemberian Tuhan dan akan menyayangiku apa adanya. Aku tidak peduli dengan rumah mungil dan sederhana yang engkau persembahkan untuk kita tempati bersama. Rumah yang hanya terdiri dari ruang tamu, kamar kita, dan satu ruangan yang berisi buku-buku terutama buku agama. Namun dari rumah yang mungil ini, aku melihat taman surgawi menjelma di sini. Aku yakin engkau adalah sosok suami yang tekun belajar dan memahami agama, dan dengan bekal ini aku yakin engkau bisa membimbingku untuk meraih surga ilahi. Sebagaimana agama kita telah mengisyaratkan bahwa, barang siapa berjalan dijalan ilmu, maka Allah akan mempermudah jalan menuju ke surga.
Saat kulihat engkau begitu berbakti kepada kedua orang tuamu dan senang menjalin silaturahim, aku yakin engkau akan berlaku baik pada anak-istrimu. Aku lihat engkau jarang sekali berbicara, tapi masya Allah kalau sedang bekerja, engkau menjadi sosok yang tekun dan ulet. Dan dari cara tutur katamu, aku mendengar kata-kata mutiara yang penuh hikmah, sehingga yang tergambar dalam pikiranku adalah sosok Lukmanul Hakim, sosok suami dan ayah yang selalu mendidik keluarganya, mengajarkan anaknya untuk tidak menyekutukan Allah.
Sungguh aku bangga mempunyai suami sepertimu melebihi kebanggaanmu padaku. Aku lebih membutuhkanmu jauh melebihi kebutuhanmu padaku. Terima kasih suamiku, karena engkau telah membimbingku…
Dakwatuna.com

Senin, 31 Januari 2011

Tanda Akad Itu


Berkumpulnya dua jiwa, saling menopang
Bersatunya dua cita & asa, saling mengisi
Bertemunya dua karakter, saling melengkapi
Berpadunya dua potensi & visi, saling menguatkan

terjadi karena cinta…

lebih dari sekedar hanya ingin menghalalkan yang haram
bukan hanya mencari pelampiasan sesaat
lebih dari sekedar mengikuti tuntutan usia
bukan hanya menghamburkan uang dunia

tetapi ini…

untuk menyempurnakan agama samawi
proses menemukan pendamping hidup sejati nan menawan hati
mengesahkan seorang bapak yang menafkahi
mengesahkan seorang ibu yang mengasihi
menambahkan rezeki
menyalurkan kebutuhan fitrah insani
mewarisi keturunan pembahagia hati
peluang meraih kebahagiaan yang hakiki

sulit mencari pendamping yang ideal
susah menemukan pasangan yang sempurna
pasti ada kekurangan di banyak sisi
karena ini pertemuan dua manusia
bukan pertemuan dua malaikat
pertemuan antara ikhtiar insani
dengan takdir ilahi yang sah

perlu sikap saling bertoleransi
perlu sikap saling memahami
perlu sikap saling menghormati
perlu sikap saling menahan diri
perlu sikap saling menasehati
perlu sikap saling berevaluasi
perlu sikap saling mengingat mati

tak akan kuat diri ini mengemban amanat besar nan suci ini
tak akan mampu diri ini berdiri hanya dengan dua kaki
begitu lemah jiwa ini menahan keangkuhan diri
perlu sentuhan Ilahi
perlu bantuan Robbul Izzati
kuatkanlah ikatan ini
pertahankanlah perjanjian mulia ini
muliakanlah cinta ini
anugrahkanlah mutiara hikmah dibalik semua ini
munculkanlah berkah dalam setiap perjalanan ini
agar menjadi keluarga dakwah sakinah nan abadi
sebagai perantara menuju jannati
penuh dengan ridho Ilahi.
Amiin…

Minggu, 16 Januari 2011

Menikah karena Allah


1.ketika akan menikah janganlah mencari isteri, tetapi carilah ibu bagi anak-anak kita.janganlah mencari suami, tetapi carilah ayah bagi anak-anak kita.

2.ketika melamar anda bukan sedang meminta kepada orangtua/wali si gadis, tetapimeminta kepada allah melalui orangtua/wali si gadis.

3.ketika akad nikah anda berdua bukan menikah di hadapan penghulu, tetapi menikah di hadapan allah.

4.ketika resepsi pernikahan catat dan hitung semua tamu yang datang untuk mendo'akan anda, karena anda harus berpikir untuk mengundang mereka semua dan meminta maaf apabila anda berpikir untuk bercerai karena menyia-nyiakan do'a mereka.

5.sejak malam pertama bersyukur dan bersabarlah anda adalah sepasang anak manusia dan bukan sepasang malaikat

6.selama menempuh hidup berkeluargasadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melulu jalan bertabur bunga tapi juga semak belukar yang penuh dengan onak dan duri

7.ketika biduk rumah tangga oleng jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justeru semakin erat berpegangan tangan.

8.ketika belum memiliki anak cintailah isteri atau suami anda 100%.

9.ketika telah memiliki anak jangan bagi cinta anda kepada (suami) isteri dan anak anda, tetapi cintailah isteri atau suami anda 100% dan cintai anak-anak anda masing-masing 100%.

10.ketika ekonomi keluarga belum membaikyakinlah bahwa pintu rizki akan terbuka lebar berbanding lurus dengan tingkat ketaatan suami dan isteri.

11.ketika ekonomi membaik jangan lupa akan jasa pasangan hidup yang setia mendampingi kita semasa menderita.

12.ketika anda adalah suam iboleh bermanja-manja kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan anda.

13.ketika anda adalah isteri tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.

14.ketika mendidik anak jangan pernah berpikir bahwa orangtua yang baik adalah orangtua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orangtua yang baik adalah orangtua yang jujur kepada anak.

15.ketika anak bermasalah yakinlah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orangtua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.

16.ketika ada pil jangan diminum, cukupkanlah suami sebagai obat.

17.ketika ada wil jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.

18.ketika memilih potret keluarga pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga masjid.

19.ketika ingin langgeng harmonis gunakanlah formula 6 k :ketaqwaankasih sayangkesetiaankomunikasi dialogisketerbukaankejujuran

*berbagai sumber

Jumat, 07 Januari 2011

Kupinang engkau dengan Bismilah


Teringat saat dulu, saat pencarian teman hidupku lagu itu yg selalu menemaniku dalam kesendirianku dalam lamunaku, syair munjat cinta terasa pas untukmenemaniku dlam penantianku unutk menjemput teman hidupku yang akan menajdi bidadarku kelak.

Walau aku senyum bukan berarti
Ada yang tak ada di hati ini
Di jiwa ini hampa

yah..aku selalu tersenyum ketika bertemu teman-teman, ketika maen futsal bareng teman kantor, atau ketika mudik bertemu ibu dan bapaku, tapi sungguh hati dan jiwaku ini hampa karena tidak adanya cinta dalam hatiku yang akan slalu menemaniku, untuk temaniku dalam kesepian, unutk mengukir cerita cinta...tapi saat itu ada saja cobaan hidup dan aku merasa seakan aku ini hina.

setiap pulang sholat subuh dari mesjid ragunan, lagu tersebut seakan terngiang-ngian dalam pendengaranku, udara pagi yang dingin seakan semakin membuatku hatiku benear-benar membutuhkan cinta.

Tuhan berikanlah aku cinta
Aku juga berhak bahagia
Berikan restu dan halal-Mu
Tuhan beri aku cinta

Y Allah hanya Engkaulah Allah dzat pemilik cinta itu, ku terus memhon dalam sujud2ku agar engaku berikan cinta untuku, restMU dan halalMU....indah untuk dikenang saat2 kesendirianku, dan aku salalu yakin setiap manusia sudah ditentukan jodohnya masing-masing, aku mempunyai keyakinan kepada Allah bahwa Dia akan memberikan yang terbaik untuku tapi tetap berikhtiar sekuat tenaga untuk mendapatkanya.

Jodoh kita sudah tertulis di lauhul mahfuzh, mau diambil dari jalan mana? jalan halal atau jalan haram, dapatnya yang itu juga, yang beda rasa keberkahanya...

semau mengharapkan jodoh yang terbaik, namun banyak orang yang berpendapat bahwa jodoh telah ditetapkan di lauhul mahfuzh, kita tidak bisa mengubahnya lagi jadi kita cukup menunggunya nanti pasti akan datng sendiri, padahal pendapt seperti ini adalah pendapat yang salah, kalau tidak di jemput ya jodoh tidak akan datang, menjemputnya bisa melalui doa dan ikhtiar yang  maksimal...yah modalku unutk mencjemput jodoh hanya doa dan ikhtiar yang cukup, tapi seandainya jodoh yang aku pinta tidak dikabulakn atau tidak sesuai dengan keinginanku, aku selalu ingat firman Allah :

“ Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Al- Baqarah:216

ikhlas dan sabar dengan takdir Allah adalah satu hal yang harus aku tanamkan dalam diri aku bahwa Allah mengetahui yang terbaik buatku,  maksimalkan doa maksimalkan ikhtiar selanjutnya biarkan Allah yang menjawab doa dan ikhtirku...itulah saat-saat kesendirianku saat-saat pencarianku, ada rasa senang sedih, menjalani hidup dengan tak hentinya berdoa dan berikhtiar, tapi semoga akan menjadi ladang pahala buatku...amin

kini, hari ini di awal taun 2011 tepatnya tanggal 2 januari aku bulatkan tekad untuk meminang bidadari, yah.. bidadari berkerudung putih, bermata jeli, berparas ayu, beralis tebal berkumis tipis di bibirnya..kubulatkan tekad untuk meminangnya untuk menjadi bagian dari hidupku, dalam suka ataupun duka, dalam senang ataupun sedih.Alhamdullilah. Hari ini akhirnya aku berangkat juga, yahh.. berangkat untuk melamarmu, setelah sebelumnya kau menerima khitbahku. Terik matahari menyengat, terbiaskan oleh film kaca mobil, teredam oleh dinginnya AC mobil , yang menemaniku sepanjang perjalanan menuju rumahmu Ku berangkat bersama ayah , ibu, dan kaka tercinta, di temani dengan sodara-sodara dekat,  Alhamdullilah sodara2ku tercinta mau membantu proses ini dengan sangat senang sekali,mulai dari transportasi sampai nanti ketika akan bertemu dan membicarakan proses lamaran dengan calon mertuaku. Sepanjang perjalanan, bapak, uwa, dan ibuku bercanda-canda kecil mengenai begitu lucunya waktu masa kanak-kanakku dulu. Ohh tidak!!,aq sedikit malu mereka membicarakanku, bahkan mereka pada awalnya sangat tidak percaya, aku yang sebelumnya masih suka bermain-main pasir, bermain srodotan di halaman rumah, atau menangis minta dibelikan mainan sekarang sudah meminta untuk menikah…hehehe, sedikit bangga aq memikirkann...maksih abah, maksih ambu...

Kau, dengan rona gelisah bertabur bahagia
merangkai kata demi kata dalam diammu

Aku, tertunduk malu bercampur haru yang membiru
menahan detak jantung yang tak berirama

Pertunangan kita di suatu senja…
adalah awal dari sebuah cerita
yang kelak ‘kan terukir pada cincin cinta kita

dengan perasaan bercampur-aduk rasa gelisah rasa senang deg-degan detak jantung ini karean hari ini adalah hari yang bersejarah dalam hidupku, dimana hari ini adalah awal menuju kehidupan denganya, dimana aku harus serius lagi dalam hidup ini menutup wanita lain dalam hatiku.


setelah sholat dhuhur berjamaah aku dan keluargaku menuju kerumahnya disambut dengan senyuman yang tulus dari pihak keluarga aku dan rombinganku masuk dan duduk dirumahnya,  ahhh beginikah rasanya meminang bidadari..perasaan malu, gelisah bahagia bercampur menjadi satu..hasilnya keringat dingin keluar dari keningku dari punggungku. tapi perasaan itu hilang takala aku melihat dia sang bidadari..ahh begitu ayunya dia, begitu cantiknya dia bidadari berkerudung coklat itu akan segera aku pinang, ingin sekali menatapnya lebih lama tapi aku harus tahan perasaan ini..BIDADARIKU saat kukatakan dengan indah IZINKAN AKU MEMINANGMU...MENIKAHLAH DENGANKU..jadikan aku raja bagimu dalam istana hatimu...

yah hari ini aku melamarmu, matahari tak terik, udara yang sejuk dan gerimis hujan menjadi saksi dan niat yang tulus,Langit mengirimkan awan untuk memyangi langkah menuju dirimu yang menunggu dengan seulas senyum, semoga akan membawa keberkahan.Aku melihat tanda-tanda alam yang kesemuanya adalah semesta yang sedang melingkupi kita.
Hari ini aku melamarmu. Ada rasa takut yang mulanya merayap di hati ini. Bukan takut pada segala yang melingkupimu. Aku takut kalau-kalau tak mampu memikul beban sejarah dan tanggungjawab atasmu. Tapi tenggelam dalam sungai ketakutan bukanlah solusi yang baik. Aku mesti mengalir dan menelusurikehidupanmu demi memastikan tanaman bahagia tetap tumbuh semerbak di hatimu. Aku mesti member air kehidupan, memberi pupuk, dan menjadi matahari atas tunas kehidupanmu. Dan betapa bahagianya diriku ketika dirimu mekar dan indah semerbak bersamaku.


Hari ini aku melamarmu. Aku memberanikan diri untuk menyayangimu, menemani hari-harimu, dan menjadi sosok yang baik untuk menelan segala sedihmu. Kita akan membuka lembaran baru dari buku kehidupan kita yang kelak akan dipenuhi catatan yang kita goreskan bersama. Kita akan sama-sama menjadi saksi atas buku kecil sejarah kehidupan kita masing-masing. Kita akan sama-sama memberi makna atas setiap jengkal perjalanan kita. Sebab kita adalah dua tubuh dan satu jiwa. Kau dan aku akan melebur jadi satu kesatuan.samapai pada acara inti, saat bapaku meminta untuk meminangmu, deg..deg..deg jantungku berdebar-debar karena ini adalah acara yang paling inti.

" sebelumnya saya dan keluarga mohon maaf yang sebesar-besarnya jika kedatangan kami sekeluarga kurang berkenan di hati bapak ibu sekalian, kedatangan kami kesini tiada maksud hanya ingin meminang putri bapak yaitu prasmitha, anak kami merasa sudah cocok dengan putri bapak, sebagai bukti dari keseriusan anak kami maka kami selaku orangtua dengan mengucap Bismillah bermaksud meminang putri bapak, yaitu neng prasmitha..tidak banyak kalimat yang di ucapkan orang tuaku, kini giliran pihak keluarga dia yang berbicara,

dan di ucapkan langsung olh bapaknya mitha.

" dengan hati yang suci dan dengan tangan terbuka seluas samudra kami sebgai orangtua menerima pinangan ini... 
alhamdulilah pinangnaku di terima, hari ini adalah hari yang paling bahagia, karena dia bidadari berparas ayu telah aku miliki...terima kasih ya Allah.." Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapatmembuat hidupku menjadi sempurna"..terima kasih bidadariku kau terima pinganan ini bahagia meski mungkin tak sebebas merpati.ada perasaan haru biru, senang sedih, hampir saja air mata ini keluar dari kelopak mataku tapi aku tahan agar tidak meneteskan air mata ini, apalgi saat ibu mengenakan cincin itu pada jemari lembtunya, sudah ga kuat lagi hati ini menahan haru ingin aku menangis sejadi-jadinya, anakmu ini yang dulu engkau susui engkau manja, ingin sekali aku memelukmu ibu, terima kasih bapak, ibu kau telah bawakan dia untuku, terima kasih juga ats restumu  karean restumu adalah restu Allah juga.Acarapun selesai di tutup dengan doa semoga semuanya mendapatkan keberkahan.

Barakallah
Mudah-mudahan Allah memberkahi, baik ketika senang mahupun susah dan selalu mengumpulkan   pada kebaikan


Kupinang engkau dengan Al Quran
Kokoh suci ikatan cinta
Kutambatkan penuh marhamah
Arungi bersama samudra dunia

Reff :
Jika terhempas di lautan duka
Tegar dan sabarlah tawakal pada-Nya
Jika berlayar di sukacita
Ingatlah tuk selalu syukur padaNya

Bridge :
Hadapi gelombang ujian
Sabarlah tegal tawakal
Arungi samudra kehidupan
Ingatlah syukur pada-Nya

Minggu, 02 Januari 2011

PERNIKAHAN ITU MEMBUKA TABIR RAHASIA


pernikahan itu…
membuka tabir rahasia, bahwa isteri yang kita nikahi…
tidaklah secantik Zulaikha… tidaklah selembut Aisyah,
tidaklah setakwa Maryam… tidak pula setabah Fathimah,
apalagi semulia Khadijah…
akan tetapi dia hanyalah perempuan akhir zaman yang ingin memperbaiki diri, tuk belajar menjadi seorang wanita yang shalihah…
ia adalah wanita yang tidaklah sempurna, sehingga ia merasa sempurna ketika Tuhan menakdirkan kita hadir dalam kehidupannya, tuk selalu setia menemaninya saat senang maupun susah…

pernikahan itu… mengajarkan kita kewajiban bersama…
jika isteri menjadi tanah, kitalah langit penaungnya
jika isteri ladang tanaman, kitalah pagar penjaganya
jika isteri adalah murid, kitalah pembimbingnya
jika isteri bagaikan anak kecil, kitalah tempat bermanjanya
saat isteri menjadi madu, teguklah sepuasnya
seketika isteri menjadi racun, kitalah penawar bisanya
seandainya isteri tulang yang bengkok, maka lemah lembutlah saat meluruskannya …
pernikahan menyadarkan suami isteri, perlunya iman dan takwa, tuk bersama meniti sabar dalam menggapai ridhaNya…

pernikahan itu…
menyingkap tabir rahasia, bahwa suami yang kita nikahi…
tidaklah setampan Yusuf… tidaklah segagah Musa,
tidaklah setaat Ibrahim… tidak pula setabah Ayyub,
apalagi semulia Muhammad…

akan tetapi dia hanyalah laki-laki akhir zaman yang ingin memperbaiki diri, tuk belajar menjadi seorang pria yang shalih…
ia adalah pria yang tiadalah sempurna, sehingga ia merasa sempurna ketika Tuhan menakdirkan kita hadir dalam kehidupannya, tuk selalu setia di sampingnya saat senang maupun susah…

pernikahan itu… mengajarkan kita tanggung jawab bersama…
jika suami menjadi rumah, kitalah penghuninya
jika suami nahkoda kapal, kitalah pembaca petanya
jika suami bagai anak kecil yang nakal, kitalah penuntun kenakalannya
saat suami menjadi raja, nikmatilah anggur singgasananya
seketika suami menjadi bisa, kitalah penawar racunnya
seandainya suami sedang marah, maka bersabarlah saat memperingatkannya…
pernikahan menginsyafkan suami isteri, perlunya iman dan takwa, tuk bersama meniti sabar dalam mencari ridhaNya…

pernikahan itu… bagaikan sebuah bahtera…
bahtera yang bersandar di pelabuhan itu memang aman dan nyaman, namun bukanlah itu tujuan dibuatnya bahtera… begitu pula bahtera rumah tangga, akan selalu ada terpaan gelombang yang menerjang, pun badai cobaan yang menghadang… kadang kecemburuan, kadang perselisihan, kadang fitnah, kadang perdebatan, kadang saling mendiamkan, kadang menipisnya kepercayaan, atau kadang tak sejalan… adalah hal yang lumrah dalam rumah tangga pernikahan… maka kesabaran, kerendah hatian, kelemah lembutan, berlapang dada, saling memahami dan saling memaafkan, adalah kunci utama tuk menjaga ikatan suci pernikahan…
pernikahan itu… kebahagiaan sesungguhnya bukan pada…
menggunungnya harta yang kita kumpulkan, atau kelapangan hidup yang selalu kita dapatkan… apabila ternyata semua itu hanyalah cobaan, atas segala kelalaian kita akan kampung halaman abadi yang Dia janjikan… bila semua itu menjadikan kita hamba ketenaran, yang berlomba dalam kemewahan, tak peduli lagi mana halal mana haram, hingga tibanya hari yang dijanjikan… maka pada hari itu, para kekasih saling mengingkari, suami isteri yang di dunia dulu seperti putri dan pangeran, kini mereka bermusuhan dan saling menyalahkan… sebab mereka dahulu tidak saling melarang dalam keburukan… dan adakah kerugian yang lebih perih bila sampai kita digiring ke dalam neraka yang dinyalakan…

pernikahan itu… kebahagiaan sesungguhnya ada pada…
barakahnya rezeki yang kita kumpulkan, serta diberikanNya kita petunjuk dalam keimanan, ketakwaan, dan ketaatan, hingga tibanya hari yang dijanjikan… maka pada hari itu, para kekasih saling dipertemukan, karena seorang kekasih akan bersama lagi dengan yang dikasihinya, seorang isteri akan kembali bersama suami yang dicintainya… sebab mereka dahulu saling bersabar dalam melakukan kebaikan… dan adakah keuntungan yang lebih indah dari diucapkannya salam yang iringi kita bersama orang-orang yang kita cintai tuk masuk ke dalam syurga abadiNya yang ditinggikan…

pernikahan itu… bukanlah sebuah pertemuan…
antara malaikat dan bidadari…
melainkan pertemuan antara seorang adam dan seorang hawa…
yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan,
oleh karena itulah mereka saling melengkapi…
maka janganlah menuntut terlalu tinggi pada sang isteri
karena justru kita sendirilah yang akan tersentak, atas kekurangan diri…
ternyata kita bukan Rasulullah yang begitu adil dan bijaksana,
ternyata kita bukan pula Ali yang begitu berkasih sayang pada keluarga…

maka janganlah menuntut terlalu tinggi pada sang suami
sebab justru kita sendirilah yang akan tersentak, atas kelemahan diri…
ternyata kita bukan Khadijah yang begitu sempurna dalam menjaga,
ternyata kita bukan pula Fathimah yang begitu setia dalam sengsara…

mengapa kita terlalu mendamba isteri sehebat Khadijah, andai diri tak semulia Rasulullah…
mengapa kita terlalu mencari isteri secantik Bilqis, andai diri tak sehebat Sulaiman…
mengapa kita terlalu mengharap suami setampan Yusuf, andai kasih tak setulus Zulaikha…
mengapa kita terlalu mencari suami seteguh Ibrahim, andai diri tak setabah Hajar dan Sarah…
kita ini hanyalah lelaki dan perempuan akhir zaman, yang ingin saling memperbaiki diri tuk belajar menjadi pria dan wanita yang shalih dan shalihah… dan bersama membangun keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah…

Senin, 27 Desember 2010

CERITA UMAR BIN KHOTOB YANG MEMBUAT ROSULULLOH TERTAWA DAN MENANGIS

Suatu ketika Rosululloh Saw berkumpul dengan para Sahabatnya, beliau bertanya kepada Para sahabatnya “Siapa diantara kalian yang bisa membuat aku tertawa “? Saya Ya rosul jawab Umar bin khotob. Kemudian Sahabat Umarpun memulai ceritanya.” Dahulu sebelum aku mengenal Islam ,aku pernah Membuat Patung berhala dari Manisan , sewaktu aku lapar aku memakan berhala tersebut mulai dari kepalanya, terus tangannya hingga habis tak tersisa.” Mendengar cerita Umar Rosululloh Saw Tertawa hingga kelihatan gigi grahamnya, Beliaupun bersabda” Dimana akal kalian waktu Itu ?” Umar Menjawab “Akal kami memang Jenius tapi waktu itu yang menciptakan alam menyesatkan kami”



Lalu Rosululloh berkata kepada Umar” Ceritakan kepadaku Hal yang membuat aku menangis”? Umarpun memulai ceritanya ” Dahulu aku punya seorang anak perempuan, aku ajak anak tersebut kesuatu tempat, Tiba ditempat yang aku tuju aku mulai menggali sebuah lubang, setiap kali tanah yang aku gali mengenai bajuku ,maka anak perempuanku membersihkannya. Padahal dia tidak mengetahuinya seseungguhnya lubang yang aku gali adalah untuk menguburnya hidup-hidup untuk persembahan berhala. Setelah selesai menggali lubang aku kubur anak perempuanku hidup-hidup . Mendengar cerita itu Meneteslah air mata rosululloh Saw begitupun dengan Umar menyesali perbuatan Jahiliyyahnya sebelum dia mengenal Islam.

Begitulah sekelumit cerita Umar bin khotob sebelum dia Mengenal Nabi Muhammad SAW , Umar terkenal sangat sadis dan kejam kepada siapa saja, begitu mengenal Rosululloh SAW hatinya luluh dan menjadi orang yang sangat sabar dan tawadhu.

Senin, 06 Desember 2010

Ane di wisuda Gan!!!


setelah pulang kerja sekitar pukul 5 sore aku buru-buru pulang ke rumah aku mau istirahat sebentar memejamkan mataku terlebih dahulu karean sejak tadi siang kepala dan badanku sungguh tidak enak enak sekali, aku pejamkan mataku..lagi nikmatnya tidur terdengar suara Adzan memanggil buru-buru aku bangunkan badan menuju kamar maandi untuk membersihkan diri unutk menunaikan sholat berjamaah...selesai sholat aku persiapkan besok unutk acara wisuda, mulai dari baju wisuda, surat undangan dan lain-lain, setelah terkumpul dengan rapih aku masukan ke dalam tasku karean malam ini aku mau nginep di rumah temanku di cibitung supaya nanti pagi tidak kesiangan pas acaranya. setelah smeua beres aku meluncur bersama teman kantor menggunkan motor  menuju kota cibitung.

jam 3 malam aku terbangun karean teman kostku membangunkanku.."de bangun barca sama real madrid udah mau main".. dengan mata yang masih ngantuk aku mencoba bangun unutk menonton pertandinagn el casino antara barca vs madrid. aku minum kopi setegug supaya mata tidak ngantuk akhirnya aku menikamti tayangan sepakbola liga spanyol walaupun tim jagoanku kalah telak tapi gpp barca mainya jg bagus dan menghibur, selesa tayangan sepak bola aku langsung mandi untuk sholat subuh dan perisapn bahwa hari itu aku mau wisuda. setaleh persipan selesai tiba-tiba terdengar suara hpku berbunyi, ternyata panggilan dari kakaku bahwa sudah menunggu di tol cibitung, langsung saja aku menuju tol cibitung unutk menemuinya. di mobil sudah ada bapak ibu kedua kakaku dan ke dua kaka iparku.setelah ngobrol dan sarapan aku dan keluarga langsung menuju tempat wisuda yaitu di hotel horison.

30 november 2010, sekitar pukul 07.00 WIB aku sudah berada di depan gedung Hotel horison bekasi yang sedang punya gawe gedhe “Pelepasan Wisudawan Wisudawati Unisma bekasi Dari jenjang Pasca Sarjana, sarjana dan diploma angkatan berapa aku ga terlalu tahu tapi kalau ga salah yang ke 28. 

Segera saja kulangkahkan kakiku menuju ke dalam gedung Hotel Horison lantai 3 didampingi ibu dan bapaku untuk persiapan akhir sebelum memasuki gedung sidang. Sebenarnya, acara ini merupakan wisuda yang keduaku. Sebelumnya, aku pernah diwisuda saat tamat / khatam al Quran di TPA kampungku. Oh tidak ding, hehehehe...

Wisuda kali memang terbilang lamabat bukanya tidak lulu-lulus, aku lulus tepat waktu cuma acara wisudanya saja yang belum ada waktu yang tepat, dan belum ada pendamping wisuda hehehe...karena ketika kuliah dulu aku berjanji bahwa aku ingin mempersembahkan gelar wisudaku dan pendamping wisudaku ke orang tuaku, dan baru terlaksana taun ini...alhamdulilah amin



Kembali ke seremonial acara wisuda. Memasuki ruang sidang Auditorium, aku duduk di kursi bernomor 15, aku duduk di barisan fakultas teknik sebelahan dengan fakultas bahasa dan sastra.

Acara kemudian berlanjut mulai dari laporan akademik, sambutan-sambutan, sampai kepada penyerahan ijazah asli dan pemindahan tali topi wisuda ke sebelah kanan (entah apa namanya aku tidak tahu). Prosesi itu merupakan prosesi yang paling lama memakan waktu karena 400 wisudawan dan wisudawati (kalau semua hadir) dipanggil namanya satu persatu untuk menerima ijazah asli dari Dekan masing-masing Fakultasnya. dalam penantianku aku agak gelisah hanponku tidak aku bawa karena dilarang membawa alat komunikasi ke ruang sidang. aku kwatir sama bidadariku  jangan-janagan tidak tau tempatnya. ah aku pasarah saja mungkin dia sudah bertemu dengan kakaku dan lagi menungguku di luar.


Tiba giliranku, aku maju ke depan ke arah Dekan Fakultas teknik, menerima ijazah, memindah tali pada topi wisuda, dan kemudian bersalaman dengan beliau. Seraya menjabat tanganku, ia berkata,”Selamat ya de..!”Aku pun menjawab, “Terima kasih, Pak.” aku berfikir mungkin aku berunutng dan bersykur karean saat wisudaku aku sudah mendaptkan pekerjaan, aku ga bisa membayangkan jika setelah wisuda aku menganggur karean saat ini banyak sarjana setelah lulus malahan menjadi pengangguran, beruntung aku ya Allah..dalam hati kecilku berdoa.Setelah aku duduk kembali ke tempat semula, aku merasa bete menunggu prosesi penyerahan ijazah yang aku rasa masih akan berlangsung lama.
setelah acara inti yaitu wisuda atau pemindahan tali wisuda, acara dialnjutkan dengan hiburan paduan suara, soeara serayu unisma bekasi, begitu harunya saat paduan suara menyanyikan lagu bunda,

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku


Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu dtimang

Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci

Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan



Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku

ah ibu, teringat waktu kecil engkau slalu memanjakanku, dari TK sampai sma engkau slalu menyiapkan sarapan terbaik untuku, engkau slalu menemaniku ketika belajar di rumah, engkau slalu menungguku dengan sabar ketika aku belajar ngaji di mushola al ikhlas, engkau slalu membangunkanku unutk slalu sholat malam, dan ayah tanpa pamrih berjuangan untuk bisa menyekolahku hingga aku bisa sekolah dan menyelesaikan kuliah...ah tak terasa ada setes air hangat yang keluar dari kelopak mataku, lagu bunda yang di nyanyikan merdu oleh paduan suara serayu membuatku teringat akan jasa-jasa bunda dan ayah..kini aku telah dewasa tapi masih belum bisa aku juga membahagiakanmu, entah harus dengan cara apa agar  aku bisa membalas budimu, aku hanya ingin agar bunda dan ayahku selalu tersenyum kareanku..bagiku acara wisudaku tidaklah hal yang penting karena wisuda ataupun tidak wisuda tetap aku lulus dan jadi sarjana muda, tapi semata-mata hanya ingin membuat orang tuaku tersenyum bangga kepadaku, semata-mata hanya ingin membuatnya bahagia, aku ingin ayah bundaku menyaksikan keberhasilan mereka dalam mendidikmu sehingga aku bisa berdiri disini sebagai seorang wisudawan...bunda, ayah..wisudaku ini semata-mata hanya untukmu..dan bidadariku ini hanya untukmu..semoga engkau bahagia dan tidak sia-sia telah memiliki putra sepertiku dan telah mendidik dan membesarkanku..love you mom. love you pah..


Singkat cerita, selesailah prosesi acara wisuda, sambil menunggu giliran foto bersama aku menuju unutk menemui orang tuaku, betapa kagetnya aku ternyata ada gadis berjilbab pink tepat disamping ibuku..cantik dan anggun sekali..siapa yahh..aku dekati ternyata dia     bidadariku yang sudah ada di ruangan berdampingan dengan ibuku sejak dari pagi, hampir saja ga kenal soalnya cantiiiiikk sekali..hehe gombal banget sih, aneh ko bisa masuk ya padahal kan ga pakai pin!!! kirain dia tidak masuk atau menunggu di luar, ternyata dia menyaksikan sidang wisudaku dari pagi, orang tuaku dan dia juga heran kenapa dia bisa masuk.."ah mungkin sudah izin dari Allah semuanya tidak ada yang tidak mungkin, Allah slalu memudahkan semua urusanku..alhamdulilah Ya Allah..dia memberikan ucapan selamat, sambil berfoto bersama ibu, alhamdulilah akhirnya aku bisa wisuda dengan orang-orang yang aku sayangi, hmmm tapi ko serasa ada yang kurang ya..mmmm, honey!!! bunganya mana??? ko ga dikasih bunga sih..hehhe lupa ya,..
dari arah MC terdengar panggilan untuk fakultas teknik diharapkan unutk menuju depan rektoran unutk berfoto bersama rektor dan dekan fakultas teknik, setelah acara foto bersama usai sudah acara wisudaku. aku dan ibu dan bidadariku langsung menunaikan sholat dzuhur berjamaah sebagai bentuk rasa sykurku.

jam 2 siang aku meninggalkan hotel horison,matahari siang yang terik menemani perjalanan kami meninggalkan hotel horison. toga ini bukanlah akhir, melainkan awal dari segalanya.






Kamis, 02 Desember 2010

Ajarkan aku cinta


Tuhan,
Tak ingin aku seperti majnun
tenggelam dalam duka cinta,
Merindu dendam dalam balutan luka

Tuhan,
tak ingin aku seperti juliet
yang menuliskan cinta
pada kematian

Tuhan,
aku hanya ingin
bertemu cinta yang bermahkotakan taqwa
bertangis jika berulang dosa
dan merindu tak kurasa, jika saatnya belum tiba

karena Tuhan,
Sungguh tak ingin aku berperih
karena cinta,

Ajarkan aku memaknai cinta

Jumat, 26 November 2010

Arjuna Mencari Bidadari 3


Malam itu aku duduk sendirian di teras rumah. sambil melihat terangnya sinar rembulan di temani secangkir kopi capucino,,sruput ahh..sruput ah..nikmatnya… menunggu tayangan langsung liga inggris ku nikmati secangkir kopi capucino..semakin malam lamunanku semakin kemana-mana sehingga menginggatkan pada seseorang dimasa lalu yg pernah mengisi hatiku ini..hmmm gimana kabarnya ya dia??? ko aku jadi ingat dia terus ya.. jangan-jangan ah ngga, mungkin saja dia sudah jadi milik orang lain kali. Hmmm.. tp ga ada salahnya aku tanya kabar dia yah itung-itung menyambung kembali tali silaturahmi. ku ambil handphonku dan kutuliskan pesan buat dia. “assalamualikum”. pa kabrnya?'..ku kirim pesan  ke nomor dia. selang beberpa menit terdengar bunyi sms di hpku. ku buka pesanku dan itu ternyata balasan sms dari dia. malam itu juga saya ber sms ria sama dia..hmm ternyata dia masih belum nikah, alhamdulilah mungkin masih ada kesempatan unutk kembali lagi..hehehe amin. akhirnya saya komunikasi lagi dengan dia. komunikasi kembali terjalin, sekedar menanyakan kabrnya, mengingatkan unutk sholt atau untuk slalu menjaga kesehtanya. jujur dari dulu sampai sekarang aku masih sayang padanya, biarpun saya sudah disakiti tapi entah kenapa rasa sayang itu tidak pernah pudar buatnya. ahh..mungkinkan ini yang dinamakan "cinta tak bisa pindah kelain hati", mungkin iya mungkin juga tidak. atau karena begitu besar dan tulusnya rasa sayang ini padanya..hmmm ataukan ini yang dinamakan CLBK? ah jujur aku sangat sayang padanya
tidak ikhlas seandainya dia nanti jadi milik orang lain tapi senadianya aku menjalin hubungan lagi dengan dia dan lebih serius apakah kedua orang tuaku merestui? karena
sebelumnya orang tuaku meminta kalau calon istriku nanti di usahakan orang yang jaraknya dekat saja, sedih juga sih tapi aku berfikir postif aja, Disini intinya aku gak mau
nyakitin ortuku, restu Mama Papa sama juga restu Allah ke kita. gak mau kan ntar kalo
udah rumah tangga hidup sengsara tanpa restu orang tua. ah pusing aku memikirkanya, aku pasrahkan saja sama Allah Dialah tempat sebaik-baik meminta, kalau memang dia jodohku takan lari kemana.Hari ini berjalan seperti biasa, seperti rekaman film yang terus-menerus diulang. Itulah yang kualami setiap pagi berangkat ke kantor pulang ke rumah sore hari. Itulah saya. azzam sang arjuna pencari bidadari..hehehe.

Selepas sholat subuh berjamaah ku rebahkan kembali tubuhku karena hari itu hari sabtu kerja pun libur, saya mau memanjakan tubuh ini dengan tidur sepuasnya. disamping bantal guling ku ambil hpku kubuka inbox smsmku..di terima dalam inbox hp sms dari bapak yang minta dikirmkan uang unutk membayar motorku, alhamdulilah udh aku trnasfer kemarin..hmmm berdebar jantungku ketika di inbox masih tertulis sms dari dia..dug dug dug suara detak jantungku, kubuka sms dari dia, ah kenapa ya hati ini ingin sekali berjumpa denganya, rasanya kangeeeenn banget sama dia, kangen senyumnya, kangen manjanya, kangen wajahnya, kangen bicaranya yang ga pernah berhenti pokonya kangen pisan euy…kucoba tulis pesan buat dia, aku ngajak ketemuan yah sekedar untuk makan denganya. tidak berpa lama di terima sms balasan dari dia, dia ngga ada acara hari itu, aku pun mengajak ketemuan denganya di salah satu pusat perbelanjaan Blk M.

Pukul 10 pagi aku bangun tidur, ku bereskan tempat tidur, setelah semuanya beres langsung menuju kamar mandi tak lupa aku nyalakan musik pop sunda dikamarku. selesai mandi dan dandan dengan rapi aku meluncur naik bus mayasari unutk menjemput dia.. di halte cinta giant aku menunggunya, panas, bising dengan kendaraan yang lalulalng di jalan ahmad yani. tiba-tiba dari arah depan muncul sesosok gadis bak bidadari menyapaku dengan jantung berdegap akupun balas menyapanya, ternyata yang aku tunggu telah hadir depanku..ahh sejuk hati ini ketika melihatnya, bisa kulihat lagi senyum manjanya yang sudah lama aku tak kulihat...dalam hati kecilku aku memohon pada Allah..ya Allah dialah yang selama ini aku cari, berikanlah dia untuku, aku ingin senyumnya hanya unutku, manjanya hanya untuku, ku inign memilih dia seutuhnya tuk menemaniku untuk menhadapMu..ah sungguh mempesonanya dia..akhirnya pertemuan pertama setelah lama berpisah kembali terajut, di plaza BLK M ada puncuk cinta yang tumbuh kembali. seperti sebuah padang gersang di sirami hujan begitulah aku padanya.setelah pertemuan itu aku merasa semakin dekat saja ia denganku. teringat pesan yang kukirim via email :

kamari rundayan katineung rek dipalerkeun
bongan mawa eurih
nu ngageuri kana ati
ngabudalkeun kingkin
jeung rambisakna rasa

tadi,
ku naon salira ngaririhan deui
mawa ibun sanajan sakeclak
nu nyirungan deui katineung
nu ngahaja rek disinglar

duh gamparan,
guligahna rasa
hamo bisa disidem deui..

Semakin hari saya merasa semakin yakin denganya, mungkin dialah jawaban dari sujud-sujud malamku. akan ku utarakan semunya padanya tentang perasaanku semoga dia juga sama dengan yang aku rasakan, tapi ada yang menganjal dihati yaitu restu ibu bapaku...hmmm bagaimana aku mengatakan ini pada orang tuaku? bagaiman kalau di tidak menyetujui niatku ini..ah pusing euy bisi teu di setujuan ku bapa sareang ku ibu.
akhirnya ku mantapkan diri ini dengan mendektakan diri pada Allah dan terus memohon
semoga semuanya di permudah dan di berikan yang terbaik buat saya, buat keluarga dan
buat Allah. hari -hariku diringi dengan tangisan dalam sajadahku aku tidak mau salah pilih dan gegabah dalam mengambil keputusan ini...ku terus berdoa dan meluruskan niatku semga dia mau menerimaku dan mendptrkan restu dari orang tua saya, dan semoga diberikan keikhlasan, teringat nasyid ost kiamat sudah dekat dan ku putar di mp4ku:


Ya. Allah aku ini insan yang kalah
Balutlah hatiku yang terbelah
Juga terpisah - pisah

Ya.. Allah hanya pada-Mu aku meminta
Dan hanya pada-Mu ku memohon
Mohon dengan sangat

Ya.. Tuhanku apalagi yang salah dariku
Bersujudku mohon kepada-Mu
Ampuni dosaku
Ya.. Tuhanku hanya engkau yang dapat mengerti
Kesepian yang mencabik diri
Kutak tahan lagi

Oh ya Allah, jangan biarkan aku terpisah
Terjerat dalam pusaran rindu
Rahasia kasih-Mu

Ya.. Allah, dia satu antara seribu
Kumohon jangan pisahkan aku
Mohon Dengan sangat
Ya.. Tuhanku apalagi yang salah dariku
Bersujudku mohon kepada-Mu
Ampuni dosaku
Ya.. Tuhanku hanya engkau yang dapat mengerti
Kesepian yang mencabik diri
Kutak tahan lagi

Oh ya Allah, jangan biarkan aku terpisah
Terjerat dalam pusaran rindu
Rahasia kasih-Mu

Oh Ya.. Allah, dia satu antara seribu
Kumohon jangan pisahkan aku
Mohon dengan sangat
Mohon dengan sangat
Mohon dengan sangat

Mohon dengan sangat ya Allah, senadainya dia memang terbaik unutk satukanlah dalam ikatan pernikahan Mohon dnegan sangat ya allah, smga orang tauku merestui niat suciku ini mohon dnegan sangat ya Allah, mudahkanlah semuanya.

Ya Allah…
Aku berdoa untuk seseorang yang  menjadi
bagian dari hidupku
Seseorang yang menjadi sahabat terbaikku
dalam setiap waktu
Seseorang yang membutuhkan dukunganku sebagai
peneguhnya
Seseorang yang membutuhkan doaku untuk
kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan diriku untuk
mengatasi kesedihannya…

Ya Allah…
Aku tidak meminta dia menjadi seseorang yang
sempurna
Melainkan dia sebagai seseorang yang sungguh
mencintai-Mu
Lebih dari segala sesuatu yang membuat
cintaku kepada-Mu tetap utuh
Bahkan membuatku lebih mengagumi-Mu
Sehingga aku dapat mencintainya dengan
cinta-Mu
Bukan mencintai hanya sekedar dengan cintaku…

Ya Allah…
Berikan aku kemampuan untuk selalu dapat
berdoa untuknya
Berikan aku kemampuan untuk selalu dapat
melengkapi kebahagiaannya
Sehingga aku dapat menyempurnakan hidup dan
ibadahnya
Dan andai ini semua layak bagi kami
Dan jika seharusnya pula kami bersama
Sungguh kami harap atas ridho-Mu…

Amin…

Telah kumantapkan diri untuk mengungkapkan perasanku kepadanya.tapi ada saja ujianya karena selang beberpa bulan dia berhenti dari pekerjaanya, dia kembali ke negeri sebrang untuk menikamti liburan unutk beberpa waktu yang tidak bisa dipastikan...ah belum juga aku katakan niatku padanya.demi membuktikan keseriusan niatku aku coba katakan padanya untuk datang menemui ibu dan bapaknya disana, alhamdulilah dia mengijinkan saya unutk datang silaturahmi dengan keluarganya.sebelum bernagkat menemuinya, saya mencoba meminta restu kembali dari orangtuaku. kuambil hpku dan ku telepon orang tauaku.."assalamualaikum"           terdengar suara bapaku menjawab. walaikumsalam pa, kumha kabarna?" aku utarakan maksudku.." pa aku sudah yakin dan bulat dengan keputusanku untuk memilih dia sebagai pendamping hidupku, rencanya
besok aku mau silaturahmi ke rumah dia mengutarakan maksudku, aku sudah yakin bahwa dia bisa menjadi ibu dari anak-anaku nanti, jadi aku mohon restu ibu dan bapak"..dengan perasaan yang gelisah karean takut mereka tidak merestui ku tunggu jawaban bapaku..beberpa saat kemudian bapaku berkata " de kalau memang itu sudah menjadi pilihanmu, yakin kamu bisa bahagia denganya, dia bisa menjadi makmum yang baik, dan bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anakmu kelak, sayang sama ibu dan bapak, aku merestui de, jemputlah ia, bawalah ia untuku, kami disini sekeluarga menantinya..." insyaallah pa semoga semuanya dimudahkan, terima kasih pa bu atas restumu, asalmualikm"..telpon aku matikan dengan perasaan tidak percaya bercampur bahagia, ku bersyukur pada Allah karean restu dari orangtuaku telah kudapatkan, tak terasa air mata haru menetes dari kedua kelopak mataku..alhamdulilah terima kasih ya Allah atas kemudahan yang Engkau berikan.

Esok harinya ba'da subuh, mentari masih belum  mucul ke permukaan hanya suara burung yang menemaniku di luar. di temani sahabatku, aku melangkahkan kakiku dengan semangat 45 unutk menjemput bidadariku..bismillah tawakaltuangalallah"..tak lupa sya berdoa pada Allah Swt memohon perlindungan semoga di berikan keselamatan dan di permudahkan segalanya. Selama dalam perjalan saya masih tidak percaya atas apa yang kulakukan,  menjemput bidadari di tanah sebrang tanpa tau arah dan tempatnya karean baru pertama kali pergi jauh dari kampung halamanku..melintasi laut, menaiki bukit..ahh ini bukan kehendaku tapi kehendak Allah, Allahlah yang memainkan skenario ini aku harus ikhlas dengan takdir yang Allah berikan saat ini, jika di perjalanan ada hambatan ataupun tidak sampe k tempat tujuan yang penting ada usaha terlebih dahulu. tak terasa jam 9 pagi bis sudah sampe di pelabuhan merak. berdua seperti orang bingung kami berdua turun dari mobil. " bingung nih de baru pertama kali ke pelabuan beli tiketnya dimana nih de".. temanku menjawab" sama de aku juga bingung"..ya udah kita ke tolilet dulu ya..saya dan temanku pergi dulu ke tolilet. keluar dari tolilet tibatiba terdengar dering telepon dalam tasku, aku angkat..ternyata telepon dari si dia..walaikumsalam" jawabnya  lembut. dia menanyakan posisi aku sudah samape mana..hmmm kayanya dia sudah ga sabar menunggu hehehe..saya jelasin bahwa kita kebingungan di pelabuan, trus dia kasih tau bahwa papanya sedang dalam perjalan pulang dari tanggerang saat ini kebetulan masih di pelabuhan merak tapi sudah naik kapal fery, wah kebetulan nih, akhirnya Allah mempermudah perjalananku, teringat dalam hadist, salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah ketika di timpa kesulitan dan kebingungan Allah pasti akan bukakakn jalan keluar, dan saat ini terbukti,  alhamdulilah mudah-mudahan aku salah satu satu dari ciri orang bertaqwa itu..amin.. langsung saja aku minta no hpnya aku berlalri menuju loket untuk membeli tiket, telat 1 menit saja bisa ketinggalan kapal, akhirnya tiba di kapal pas tepat waktu, karean kapal belum berlayara. aku masuk aku cari-cari papanya dia hmmm yang mana ya wong ketemu aja belum pernah. aku cari bangku yang kosong dari saku terdengar hpku berdering. 'assalamualaikum"..walaikumsalam, jawabku. "ini azzam ya, aku papanya tachi"..oh papa, jawabku. sambil melihat ke arah depan. oh itu kali ya. aku samperin aja, ini papanya tachi ya!! aku bertanya, iya, dia menjawab..dengan perasaan yang ga karuan aku duduk disamping dia, grogi, takut, soalnya kumisnya tebel banget pasti galak hehehe...selama dalam perjalanan saya sama papanya dia ngobrol ngaler ngidul, tapi yang paling banyak sih bicarin dia..hehe tentang masa kecilnya, tentang sifatnya, tentang kepintaranya, tentang manjanya..ohh jadi semakin yakin aja sama dia..prikitiw.. saat asik ngobrol terdengar bunyi sms, ternyata sms ke hp papanya dia, dia buka smsnya sambil senyam - senyum papanya liatin sms dari tachi ke saya, isinya " pah ajak ngobrol ya dia, soalnya dia agak pendiam"..begitu tulisan smsnya, lucu juga ya papa tachi smsnya ko di kasih tau sama aku..hehe sambil ngobrol kami berdua merasa akrab selama dalam perjalanan, hmm.. semakin akrab aja nih..mudah-mudahan aku diterima di keluarganya amin..

Akhirnya pukul 17:30 kita tiba di rumahnya..duhh udh ga sabar ingin segera berjumpa denganya..hehe, sesampainya di depan gerbang ku ucapkan salam. " assalamualikum"
dari dalam terdengar ucapan salam dengan lembutnya, "walaikumsalam". dug dug jantungku berdecak kencang, melihat sosok putri berkerudung biru tersenyum dengan manisnya saat membukakan pintu gerbang. cesss adem sekali hatiku ini, hilang sudah rasa letih, rasa lelah seolah-olah ada energi baru yang mengisi badanku setelah bertemu denganya, dialah sang bidadari hatiku saat ini tepat dihadapanku...ah bahagianya hatiku bisa berjumpa denganya lagi seperti pendaki gunung yang telah mencapai puncaknya dimana bisa melihat pemandangan yang indah dan luas, begitulah aku seolah-olah dialah pemandangan terindahku..

bidadariku..

dengan kecantikanmu engkau lebih elok
daripada mentari
dengan akhlakmu engkau lebih wangi daripada
haruman
dengan rendah hatimu engkau lebih tinggi
daripda rembulan
dengan kelembutanmu engaku lebih halus
daripada rintik hujan

bidadariku...

Namamu tak terukir
Dalam catitan harianku
Asal usulmu tak hadir
Dalam diskusi kehidupanku
Wajah wujudmu tak terlukis
Dalam sketsa mimpi-mimpiku
Indah suaramu tak terakam
Dalam pita batinku
Namun kau hidup mengaliri
Pori-pori cinta dan semangatku
Sebab
Kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan
Untukku
Bidadariku…

ba'da isya sekitr pukul 8 malam saya dan keluarga beliau berincang-bincang santai di teras rumahnya, sambil mencicipi kue salju dan minum teh manis ku utarakan maksud kedatangnaku. ku tarik nafas dalam-dalam, ku kumpulkan energi dalm tubuhku sambil membaca bismilah dalam hati aku utarakan maksud kedatanganku. " Bu, Pah sengaja aku dan temanku datang kesini bermaksud tidak lain hanya untuk silaturahmi dengan Ibu dan Bapak, ingin kenal lebih jauh lagi dengan keluarga disini, dan aku punya niat untuk lebih serius lagi menjalin hubungan dengan putri bapa dan ibu. kalau dari aku sendiri aku sudah merasa cocok dengan putri ibu, dialah yang selama ini aku cari, aku merasa dialah yang pantas unutk mendampingiku, aku yakin dia bisa menjadi ibu yang baik unutk anak-anaku nanti, tapi, aku hanyalah pemuda miskin dan dari keluarga miskin, tidak mempunyai harta ataupun tahta yang aku miliki hanyalah keyakinan iman bahwa Allah akan menolong setiap hambanya, aku hanya beriktiar saja, seandainya tachi memang sudah mempunyai calon yang terbaik dan ibu ataupun bapak sudah memiliki pilihan yang tepat buat pendamping tachi aku ikhlas kalau senadainya tachi tidak memilih aku.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.


Ah.. plong sudah beban di dadaku setelah ku utarakan maksudku,, sambil ku minum teh manis ku menunggu jawaban darinya.."kalau ibu dan bapak disini meyerahkan semuanya ke putri ibu, tergantung dari putri ibu saja, kita disni hanya mengarahkan kalau seandainya azzam sama dia sudah cocok, kemudian putri ibu juga sudah cocok ya kami semua menyetujuinya kami hanya bisa berdoa saja sebagai orang tua. tergantung putri ibu, tachi kira-kira sudah sreg ngga sama azzam? sudah yakin merasa cocok ga? ibunya balik pertanya pada tachi, hanya satu jawaban dari dia, simple tapi membuatku bahagia serasa melayang-layang diatas awan. "Insyaallah" itulah jawaban tachi. ahlan wasahlan azzam!!! kata itu meluncur tenang bersama senyum sang ibu dan bapak..."alhamdulilah"..ahh tidak sia-sia juga aku jauh-jauh datang kesini kalau semuanya menyambutku dengan "Ahlan wasahlan" selamat datang wahai azzam di keluargaku. jadi teringat perjuangan Ali ra ketika melamar Fatimah putri Rasulullah, dimana perjuangan Ali unutk mendaptkan Fatimah bukanlah perjuangan yang gampang. karena banyaknya sahabat Rasulullah yang melamar fatimah, begitupun aku karena menurut ibu dan bapaknya banyak pemuda yang datang untuk meminang putrinya tapi hanya aku yang diterima di keluarganya..Alhamdulilah Ya Allah telah Engkau permudah urusanku ini.

inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

Ali ra telah menjadi inspirasiku untuk menjemput dia. Alhamdulilah ya Allah telah kau krimkan dia untuku, semoga ini adalah akhir dari pencarianku. Telah ku jemput bidadariku insya Allah 8 purnama lagi aku akan datang kembali untuk meminangnya….

…………Barakallah………..


( di tulis saat hati begitu merindukanya )