Dina mangsa usum hujan, tanggal 3 poe kemis kuring nampa surat ondangan timanaehna, teu nyangka teu disangka geunig anjeun rek rerendengan. duh eneng ku tega pisan ku tega pisan ka abdi.
Kiwari tinggal lamunan, katresna urang duaan ngan ukur dina pangimpian urang rernedengan, naha ku tega salaira megatkeun tali katresna naon atuh leupatna akang ka salaira, naon atuh kakirangan abdi.
Bet tega salira megatkeun ieu cinta..
Assalamualaikum Wr Wb
Wilujeng sumping ka sadayana di blog abdi, mugia aya manfaatna....
Minggu, 31 Oktober 2010
Kamis, 28 Oktober 2010
WASIAT NABI MUHAMMAD S.A.W. kepada SAYYIDINA 'ALI R.U
Wahai 'Ali, bagi orang 'ALIM itu ada 3 tanda-tandanya:
1) Jujur dalam berkata-kata.
2) Menjauhi segala yg haram.
3) Merendahkan diri.
Wahai 'Ali, bagi orang yg JUJUR itu ada 3 tanda-tandanya:
1) Merahasiakan ibadahnya.
2) Merahasiakan sedekahnya.
3) Merahasiakan ujian yg menimpanya.
Wahai 'Ali, bagi orang yg TAKWA itu ada 3 tanda-tandanya:
1) Takut berlaku dusta dan keji.
2) Menjauhi kejahatan.
3) Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman.
Wahai 'Ali, bagi AHLI IBADAH itu ada 3 tanda-tandanya:
1) Mengawasi dirinya.
2) Menghisab dirinya.
3) Memperbanyakkan ibadah kepada Alloh s.w.t.
1) Jujur dalam berkata-kata.
2) Menjauhi segala yg haram.
3) Merendahkan diri.
Wahai 'Ali, bagi orang yg JUJUR itu ada 3 tanda-tandanya:
1) Merahasiakan ibadahnya.
2) Merahasiakan sedekahnya.
3) Merahasiakan ujian yg menimpanya.
Wahai 'Ali, bagi orang yg TAKWA itu ada 3 tanda-tandanya:
1) Takut berlaku dusta dan keji.
2) Menjauhi kejahatan.
3) Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman.
Wahai 'Ali, bagi AHLI IBADAH itu ada 3 tanda-tandanya:
1) Mengawasi dirinya.
2) Menghisab dirinya.
3) Memperbanyakkan ibadah kepada Alloh s.w.t.
Wasiat Rosululloh SAW kepada Siti A'isyah r.a
Suatu ketika Rosululloh SAW berwasiat kepada Siti A'isyah r.a....
Wahai A'isyah, Aku wasiatkan kepadamu empat perkara...
A'isyah berkata "Apakah itu Ya Rosululloh?"
Rosululloh SAW bersabda; Wahai A'isyah...
1. Janganlah kau tidur sebelum mengkhatamkan Al Qur an.
2. Janganlah kau tidur sebelum kau yakin telah mendapatkan syafa'at dari para Nabi atau Rosul di hari Kiamat.
3. Janganlah kau tidur sebelum semua kaum mukminin dan mukminat telah ikhlas kepadamu.
4. Janganlah kau tidur sebelum kau menjadi Haji.
....
Kemudian Siti A'isyah bertanya.... "Ya Rosululloh, Bagaimana melakukan itu semua???"
Rosululloh SAW tersenyum, kemudian bersabda;
1. Janganlah kau tidur sebelum mengkhatamkan Al Qur an, yaitu Bacalah Surat Al Ikhlas 3x, karena membaca surat Al Ikhlas 3x, 'pahalanya' sama dengan mengkhatamkan Al Qur an.
2. Janganlah kau tidur sebelum kau yakin telah mendapat syafa'at dari para Nabi atau Rosul, yaitu Bacalah Shalawat serta Salam kepada para Nabi dan Rosul, sehingga dengan begitu mereka bisa memberi syafa'at kepadamu di Hari Kiamat.
(Contoh; AllooHumma Sholli 'alaa Nuuril Anwar wa sirril Ashroor wa tiryaaqil Agyaar wa miftaahi baabil yasaar sayyidinaa wa maulaanaa Muhammadinil Mukhtaar, wa aaliHil ath Har wa ash haa biHil akhyar, 'adadaa ni 'amillaaHi wa ifdloo liH.....
atau pake bahasa indonesia
artinya: "Yaa AlloH, Curahkanlah Rahmat kepada cahaya segala cahaya, rahasia sekalian rahasia, obat segala obat, kunci segala kemudahan, penguhulu kami, pemimpin kami Muhammad, dan kepada para keluarganya yang suci-suci, dan kepada para sahabatnya yang baik-baik, sebanyak Nikmat Alloh dan Anugerah-Nya."
atau yang simple.... Alloohumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammad)
3. Janganlah kau tidur sebelum semua kaum mukminin dan mukminat ikhlas kepadamu, yaitu Bacalah Do'a untuk semua kaum mukminin dan mukminat, sehingga mereka kemudian ikhlas kepadamu.
(Contoh; AllooHummagfirlanaa waliwaalidaynaa walil mu'mininaa wal mu'minaat wal musliminaa wal muslimaat, al ahyaa i min Hum wal amwat Birohmatika Yaa Arhamarrohimiin)
atau pake bahasa indonesia
artinya: "Yaa Alloh, Ampunilah kami, orang-orang tua kami, semua kaum mukminin mukminat, muslimin dan muslimat, baik yang masih Hidup atau yang telah tiada, dengan rahmat-Mu, Wahai Yang Maha Penyayang diantara para Penyayang"
catatan: kata kami diatas maksudnya bisa diartikan diri sendiri + keluarga + saudara + sahabat + orang2 yg terpikirkan dalam benakmu + mungkin special buat yang disayangi. Piss
4. Janganlah kau tidur sebelum kau jadi Haji, yaitu Bacalah Tasbih Tahmid Tahlil dan Takbir, karena dengan membaca itu pahalanya sama dengan orang yang telah menjadi Haji.
Catatan: Menjelang Bulan Sya'ban banyak-banyaklah membaca Surat Al Ikhlas dan Sholawat... :) it's nice... really
Semoga bermanfa'at......
Wassalam
Wahai A'isyah, Aku wasiatkan kepadamu empat perkara...
A'isyah berkata "Apakah itu Ya Rosululloh?"
Rosululloh SAW bersabda; Wahai A'isyah...
1. Janganlah kau tidur sebelum mengkhatamkan Al Qur an.
2. Janganlah kau tidur sebelum kau yakin telah mendapatkan syafa'at dari para Nabi atau Rosul di hari Kiamat.
3. Janganlah kau tidur sebelum semua kaum mukminin dan mukminat telah ikhlas kepadamu.
4. Janganlah kau tidur sebelum kau menjadi Haji.
....
Kemudian Siti A'isyah bertanya.... "Ya Rosululloh, Bagaimana melakukan itu semua???"
Rosululloh SAW tersenyum, kemudian bersabda;
1. Janganlah kau tidur sebelum mengkhatamkan Al Qur an, yaitu Bacalah Surat Al Ikhlas 3x, karena membaca surat Al Ikhlas 3x, 'pahalanya' sama dengan mengkhatamkan Al Qur an.
2. Janganlah kau tidur sebelum kau yakin telah mendapat syafa'at dari para Nabi atau Rosul, yaitu Bacalah Shalawat serta Salam kepada para Nabi dan Rosul, sehingga dengan begitu mereka bisa memberi syafa'at kepadamu di Hari Kiamat.
(Contoh; AllooHumma Sholli 'alaa Nuuril Anwar wa sirril Ashroor wa tiryaaqil Agyaar wa miftaahi baabil yasaar sayyidinaa wa maulaanaa Muhammadinil Mukhtaar, wa aaliHil ath Har wa ash haa biHil akhyar, 'adadaa ni 'amillaaHi wa ifdloo liH.....
atau pake bahasa indonesia
artinya: "Yaa AlloH, Curahkanlah Rahmat kepada cahaya segala cahaya, rahasia sekalian rahasia, obat segala obat, kunci segala kemudahan, penguhulu kami, pemimpin kami Muhammad, dan kepada para keluarganya yang suci-suci, dan kepada para sahabatnya yang baik-baik, sebanyak Nikmat Alloh dan Anugerah-Nya."
atau yang simple.... Alloohumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammad)
3. Janganlah kau tidur sebelum semua kaum mukminin dan mukminat ikhlas kepadamu, yaitu Bacalah Do'a untuk semua kaum mukminin dan mukminat, sehingga mereka kemudian ikhlas kepadamu.
(Contoh; AllooHummagfirlanaa waliwaalidaynaa walil mu'mininaa wal mu'minaat wal musliminaa wal muslimaat, al ahyaa i min Hum wal amwat Birohmatika Yaa Arhamarrohimiin)
atau pake bahasa indonesia
artinya: "Yaa Alloh, Ampunilah kami, orang-orang tua kami, semua kaum mukminin mukminat, muslimin dan muslimat, baik yang masih Hidup atau yang telah tiada, dengan rahmat-Mu, Wahai Yang Maha Penyayang diantara para Penyayang"
catatan: kata kami diatas maksudnya bisa diartikan diri sendiri + keluarga + saudara + sahabat + orang2 yg terpikirkan dalam benakmu + mungkin special buat yang disayangi. Piss
4. Janganlah kau tidur sebelum kau jadi Haji, yaitu Bacalah Tasbih Tahmid Tahlil dan Takbir, karena dengan membaca itu pahalanya sama dengan orang yang telah menjadi Haji.
Catatan: Menjelang Bulan Sya'ban banyak-banyaklah membaca Surat Al Ikhlas dan Sholawat... :) it's nice... really
Semoga bermanfa'at......
Wassalam
"SomeOne"
:) i just want to write this..... suatu rahasia yg teramat tinggi..... aku akan mengungkapkannya pada kalian...... mudah2n mengerti
Ada seseorang hamba 4JJ1..... suatu ketika dia bermimpi, yang didalam mimpinya seakan akan 4JJ1 berkata kepadanya....
4JJ1 ... "Sesungguhnya Aku telah menciptakan 10 macam kelompok manusia, kemudian Aku Hadapkan kepada mereka semua Kekayaan yang melimpah..... dan kemudian mereka semua tertarik kepada Kekayaan itu, sehingga mereka memohon kepada-Ku untuk diberikan Kekayaan tersebut kepada mereka, kemudian Aku berikan kepada mereka Kekayaan itu...
Kecuali 1 Kelompok, 1 Kelompok ini tidak tertarik kpd Kekayaan itu, dan 1 kelompok ini terbagi lagi menjadi 10 kelompok, kemudian Aku hadapkan kepada mereka Surga dengan segala Kenikmatannya, sehingga mereka tertarik kepada Surga dan memohon kepada-Ku agar diberikan Surga, kemudian Aku memberikan Surga kepada mereka....
Kecuali 1 Kelompok, 1 Kelompok ini tidak tertarik kepada Surga, dan 1 kelompok ini terbagi lagi menjadi 10 kelompok, kemudian Aku hadapkan kepada mereka Neraka dengan segala Siksaan dan Kengeriannya, sehingga merekapun amat sangat takut dan mereka memohon kepada-Ku agar dijauhkan dari Siksa dan kengerian Neraka, kemudian Aku kabulkan permohonan mereka...
Kecuali 1 Kelompok, 1 Kelompok ini tidak tertarik kepada Kekayaan, Surga, dan tidak takut dengan Neraka.... Sehingga 4JJ1 bertanya kepada mereka... Kalian tidak menginginkan Kekayaan juga tidak tertarik dengan Surga juga tidak takut dengan Neraka, Sebenarnya apa yang kalian inginkan?...
Mereka menjawab "Yaa 4JJ1, Yaa Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau lebih mengetahui apa yang kami kehendaki" ----- i like this---- √
BarokalloH
Allohumma Sholli Wasallim Wabarik 'alaa sayyidina Muhammad
Wassalam
Ada seseorang hamba 4JJ1..... suatu ketika dia bermimpi, yang didalam mimpinya seakan akan 4JJ1 berkata kepadanya....
4JJ1 ... "Sesungguhnya Aku telah menciptakan 10 macam kelompok manusia, kemudian Aku Hadapkan kepada mereka semua Kekayaan yang melimpah..... dan kemudian mereka semua tertarik kepada Kekayaan itu, sehingga mereka memohon kepada-Ku untuk diberikan Kekayaan tersebut kepada mereka, kemudian Aku berikan kepada mereka Kekayaan itu...
Kecuali 1 Kelompok, 1 Kelompok ini tidak tertarik kpd Kekayaan itu, dan 1 kelompok ini terbagi lagi menjadi 10 kelompok, kemudian Aku hadapkan kepada mereka Surga dengan segala Kenikmatannya, sehingga mereka tertarik kepada Surga dan memohon kepada-Ku agar diberikan Surga, kemudian Aku memberikan Surga kepada mereka....
Kecuali 1 Kelompok, 1 Kelompok ini tidak tertarik kepada Surga, dan 1 kelompok ini terbagi lagi menjadi 10 kelompok, kemudian Aku hadapkan kepada mereka Neraka dengan segala Siksaan dan Kengeriannya, sehingga merekapun amat sangat takut dan mereka memohon kepada-Ku agar dijauhkan dari Siksa dan kengerian Neraka, kemudian Aku kabulkan permohonan mereka...
Kecuali 1 Kelompok, 1 Kelompok ini tidak tertarik kepada Kekayaan, Surga, dan tidak takut dengan Neraka.... Sehingga 4JJ1 bertanya kepada mereka... Kalian tidak menginginkan Kekayaan juga tidak tertarik dengan Surga juga tidak takut dengan Neraka, Sebenarnya apa yang kalian inginkan?...
Mereka menjawab "Yaa 4JJ1, Yaa Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau lebih mengetahui apa yang kami kehendaki" ----- i like this---- √
BarokalloH
Allohumma Sholli Wasallim Wabarik 'alaa sayyidina Muhammad
Wassalam
Rabu, 27 Oktober 2010
Indahnya Puasa Pertama Setelah Menikah
Bagi yang baru menikah atau pengantin baru, mungkin Anda tak sabar menantikan puasa pertama bersama pasangan, sebagai keluarga. Meskipun begitu, perlu ada penyesuaian, misalnya dalam hal:
Membangunkan sahur.
Gunakan cara yang halus untuk membangunkan pasangan untuk sahur. Meskipun cara yang mengagetkan, seperti menyiram air atau memasang alarm dengan kencang di telinganya, lebih efektif. Namun kebanyakan orang tak suka dibangunkan dengan cara ini, apalagi terbangun karena kaget dapat membuat bad mood sepanjang hari. Sebaiknya kenali kebiasaan tidur pasangan. Berapa lama waktu tidurnya dan waktu yang diperlukan hingga benar-benar terbangun. Ingatkan pasangan untuk tidur lebih cepat saat malam sebelumnya. Jika ia termasuk orang yang sulit dibangunkan, usahakan agar Anda membangunkan lebih awal dari waktu makan sahur dan jangan bosan untuk berusaha membangunkannya. Jangan meninggalkannya dengan makan lebih dahulu. Dan tetaplah menemaninya sahur meskipun Anda sedang berhalangan tak berpuasa.
Komunikasi menu.
Menu yang Anda sajikan di rumah akan membangkitkan selera pasangan saat sahur dan berbuka. Bicarakan dengan pasangan, hidangan apa yang diinginkannya di bulan puasa ini. Siapkan makanan favoritnya untuk menambah semangat berpuasa. Anda bisa menyiapkan hidangan sahur sejak malam sebelumnya, dan hanya perlu dihangatkan ketika waktu sahur tiba. Jika kebetulan Anda bukan tipe yang suka memasak, tak akan mengecilkan peran Anda bila menggunakan tenaga asisten rumah tangga selama Anda tetap menentukan menu dan mengawasinya. Pasangan pasti bersyukur memiliki Anda yang mendampinginya di bulan penuh rahmat ini. Jangan lupa, sediakan selalu SariWangi untuk melengkapi sajian sahur dan berbuka puasa.
Variasi kegiatan.
Meskipun berpuasa, bukan berarti harus sepi kegiatan bersama pasangan. Misalnya, coba sesekali berbuka puasa di luar rumah, berdua saja atau bersama keluarga dan teman-teman. Selain mendekatkan dengan pasangan, juga mempererat silahturahmi dengan kenalan serta keluarga Anda berdua. Atau berolahraga ringan, seperti jalan kaki atau bersepeda berdua, sambil menunggu waktu berbuka puasa. Karena ini bulan yang pernuh berkah, alangkah baiknya jika Anda dan pasangan juga beribadah bersama, misalnya Tarawih bersama di rumah, mengaji atau membagikan makan sahur dan berbuka bagi yang tak mampu. Tak hanya mempererat hubungan Anda dan pasangan, juga mempertebal keimanan, memperbanyak pahala dan menambah berkah rumah tangga Anda berdua.
Rencana Mudik Hari Raya.
Di bulan puasa ini, juga saatnya Anda dan suami membicarakan rencana untuk merayakan Idul Fitri. Apakah akan berlebaran dengan keluarga besar Anda atau pasangan lebih dulu? Di tahun pertama pernikahan, biasanya paling sulit untuk menentukan ini. Buat kesepakatan lebih dahulu antara Anda dan pasangan. Jika orang tua dan keluarga besar Anda berdua kebetulan ada di dalam kota, akan lebih mudah membagi waktu. Namun jika salah satu atau keduanya berada di luar kota, mungkin harus dilakukan giliran. Misalnya, tahun ini berlebaran di keluarga besar pasangan, dan tahun berikutnya dengan keluarga besar Anda.
Sumber : mari-bicara.com
Membangunkan sahur.
Gunakan cara yang halus untuk membangunkan pasangan untuk sahur. Meskipun cara yang mengagetkan, seperti menyiram air atau memasang alarm dengan kencang di telinganya, lebih efektif. Namun kebanyakan orang tak suka dibangunkan dengan cara ini, apalagi terbangun karena kaget dapat membuat bad mood sepanjang hari. Sebaiknya kenali kebiasaan tidur pasangan. Berapa lama waktu tidurnya dan waktu yang diperlukan hingga benar-benar terbangun. Ingatkan pasangan untuk tidur lebih cepat saat malam sebelumnya. Jika ia termasuk orang yang sulit dibangunkan, usahakan agar Anda membangunkan lebih awal dari waktu makan sahur dan jangan bosan untuk berusaha membangunkannya. Jangan meninggalkannya dengan makan lebih dahulu. Dan tetaplah menemaninya sahur meskipun Anda sedang berhalangan tak berpuasa.
Komunikasi menu.
Menu yang Anda sajikan di rumah akan membangkitkan selera pasangan saat sahur dan berbuka. Bicarakan dengan pasangan, hidangan apa yang diinginkannya di bulan puasa ini. Siapkan makanan favoritnya untuk menambah semangat berpuasa. Anda bisa menyiapkan hidangan sahur sejak malam sebelumnya, dan hanya perlu dihangatkan ketika waktu sahur tiba. Jika kebetulan Anda bukan tipe yang suka memasak, tak akan mengecilkan peran Anda bila menggunakan tenaga asisten rumah tangga selama Anda tetap menentukan menu dan mengawasinya. Pasangan pasti bersyukur memiliki Anda yang mendampinginya di bulan penuh rahmat ini. Jangan lupa, sediakan selalu SariWangi untuk melengkapi sajian sahur dan berbuka puasa.
Variasi kegiatan.
Meskipun berpuasa, bukan berarti harus sepi kegiatan bersama pasangan. Misalnya, coba sesekali berbuka puasa di luar rumah, berdua saja atau bersama keluarga dan teman-teman. Selain mendekatkan dengan pasangan, juga mempererat silahturahmi dengan kenalan serta keluarga Anda berdua. Atau berolahraga ringan, seperti jalan kaki atau bersepeda berdua, sambil menunggu waktu berbuka puasa. Karena ini bulan yang pernuh berkah, alangkah baiknya jika Anda dan pasangan juga beribadah bersama, misalnya Tarawih bersama di rumah, mengaji atau membagikan makan sahur dan berbuka bagi yang tak mampu. Tak hanya mempererat hubungan Anda dan pasangan, juga mempertebal keimanan, memperbanyak pahala dan menambah berkah rumah tangga Anda berdua.
Rencana Mudik Hari Raya.
Di bulan puasa ini, juga saatnya Anda dan suami membicarakan rencana untuk merayakan Idul Fitri. Apakah akan berlebaran dengan keluarga besar Anda atau pasangan lebih dulu? Di tahun pertama pernikahan, biasanya paling sulit untuk menentukan ini. Buat kesepakatan lebih dahulu antara Anda dan pasangan. Jika orang tua dan keluarga besar Anda berdua kebetulan ada di dalam kota, akan lebih mudah membagi waktu. Namun jika salah satu atau keduanya berada di luar kota, mungkin harus dilakukan giliran. Misalnya, tahun ini berlebaran di keluarga besar pasangan, dan tahun berikutnya dengan keluarga besar Anda.
Sumber : mari-bicara.com
CATATAN SEORANG ISTRI
Sebelum menikah, selain kriteria Taqwa, saya tidak punya kriteria khusus untuk calon suami saya nanti. Karena saya menyadari bahwa saya bukanlah wanita yang ideal untuk dijadikan isteri, terutama untuk urusan pekerjaan rumah tangga. Maka saya amat sangat bersyukur pada Allah ketika Dia mengirimkan Lelaki Surga yang penyabar dan pengertian untuk saya.
Lelaki Surga itu tersenyum dan memandang saya penuh cinta ketika pada malam pertama kami, dengan jujur saya mengatakan bahwa saya tidak terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga. Memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh dua orang pembantu.
“Biar si bibi yang kerjakan”
Begitu kata Bunda bila kami anak-anaknya ingin mencuci piring bekas makan kami sendiri. Maka saya pun menjadi terbiasa “terima beres”. Pakaian tinggal pakai, sudah bersih, rapi dan wangi. Mau makan, tinggal ambil di meja makan. Mau minum hangat atau dingin, pembantu yang membuatkan. Setiap pagi pembantu akan bertanya minuman apa yang saya ingin dibuatkan. Sekali-sekali saya ke dapur membantu memasak, hitung-hitung sekalian belajar, tapi sedikit saja salah, Bunda akan mengusir saya dari dapur. Aneh memang, bukannya mengajarkan cara memasak yang benar, saya malah tidak dibolehkan di dapur. Dengan bicara jujur pada suami, saya berharap ia mempersiapkan kesabaran dan pengertian yang lebih bila nanti, saya memasak makanan yang tidak sedap di lidahnya atau rumah kami menjadi kurang indah dalam penglihatannya.
“Nanti adek kan bisa belajar…” Ujar suami setelah mendengar penuturan saya. Tak ada raut kekhawatiran di wajahnya bila nanti saya tidak dapat mengurusnya dengan baik.
Belajar. Itulah yang harus saya lakukan. Manusia memang tidak boleh berhenti belajar. Belajar, tidak hanya di bangku kuliah, tapi juga di universitas kehidupan. Dan sekaranglah saatnya saya belajar di kehidupan rumah tangga, yaitu belajar menjadi isteri sholehah…
Proses belajar pun dimulai. Pekerjaan mencuci, membenahi rumah, menyetrika, ke pasar, memasak, menguras kamar mandi, semua saya lakukan sendiri tanpa bantuan pembantu rumah tangga, hanya suami yang sesekali membantu disela-sela kesibukannya. Setiap hari selalu ada sayatan luka baru di jari jemari saya. Tubuh mulai mudah masuk angin. Rasa perih, ngilu, pegal-pegal, kaku, kerap menghinggapi telapak tangan saya. Tapi jika mengingat betapa Allah sangat menghargai apa yang seorang isteri lakukan untuk suaminya, tidak ada alasan bagi saya untuk mengeluh, apalagi menyerahkan tugas-tugas itu kepada pembantu, rugi rasanya.
Setelah delapan bulan menikah. Hmm..lumayan juga hasilnya. Pakaian suami selalu rapi dan berbau wangi. Rumah kontrakan kami selalu bersih, lantainya selalu mengkilap. Pemilik rumah kontrakan tidak lagi harus turun tangan menggosok lantai kamar mandi karena saya sudah dapat melakukannya sendiri. Setelah beberapa kali dicontohkan secara tidak langsung oleh pemilik rumah, barulah saya tahu cara menggosok lantai kamar mandi yang baik dan benar. Soal masak? Suami bilang saya sudah lebih pandai memasak. Tidak percuma ia rajin membelikan tabloid khusus resep masakan untuk saya pelajari. Tapi tentu saja saya tidak boleh merasa puas. Saya masih harus terus belajar dan belajar.. Mungkin ini lah salah satu rencana Allah menunda menganugerahkan kami seorang anak. Dia Maha Mengetahui kapan saat yang terbaik bagi kami untuk mendapat amanah seorang anak. Saat dimana saya telah menjadi isteri yang baik dan telah siap kembali belajar untuk menjadi Ibu yang baik…Tetap Semangat !




Lelaki Surga itu tersenyum dan memandang saya penuh cinta ketika pada malam pertama kami, dengan jujur saya mengatakan bahwa saya tidak terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga. Memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh dua orang pembantu.
“Biar si bibi yang kerjakan”
Begitu kata Bunda bila kami anak-anaknya ingin mencuci piring bekas makan kami sendiri. Maka saya pun menjadi terbiasa “terima beres”. Pakaian tinggal pakai, sudah bersih, rapi dan wangi. Mau makan, tinggal ambil di meja makan. Mau minum hangat atau dingin, pembantu yang membuatkan. Setiap pagi pembantu akan bertanya minuman apa yang saya ingin dibuatkan. Sekali-sekali saya ke dapur membantu memasak, hitung-hitung sekalian belajar, tapi sedikit saja salah, Bunda akan mengusir saya dari dapur. Aneh memang, bukannya mengajarkan cara memasak yang benar, saya malah tidak dibolehkan di dapur. Dengan bicara jujur pada suami, saya berharap ia mempersiapkan kesabaran dan pengertian yang lebih bila nanti, saya memasak makanan yang tidak sedap di lidahnya atau rumah kami menjadi kurang indah dalam penglihatannya.
“Nanti adek kan bisa belajar…” Ujar suami setelah mendengar penuturan saya. Tak ada raut kekhawatiran di wajahnya bila nanti saya tidak dapat mengurusnya dengan baik.
Belajar. Itulah yang harus saya lakukan. Manusia memang tidak boleh berhenti belajar. Belajar, tidak hanya di bangku kuliah, tapi juga di universitas kehidupan. Dan sekaranglah saatnya saya belajar di kehidupan rumah tangga, yaitu belajar menjadi isteri sholehah…
Proses belajar pun dimulai. Pekerjaan mencuci, membenahi rumah, menyetrika, ke pasar, memasak, menguras kamar mandi, semua saya lakukan sendiri tanpa bantuan pembantu rumah tangga, hanya suami yang sesekali membantu disela-sela kesibukannya. Setiap hari selalu ada sayatan luka baru di jari jemari saya. Tubuh mulai mudah masuk angin. Rasa perih, ngilu, pegal-pegal, kaku, kerap menghinggapi telapak tangan saya. Tapi jika mengingat betapa Allah sangat menghargai apa yang seorang isteri lakukan untuk suaminya, tidak ada alasan bagi saya untuk mengeluh, apalagi menyerahkan tugas-tugas itu kepada pembantu, rugi rasanya.
Setelah delapan bulan menikah. Hmm..lumayan juga hasilnya. Pakaian suami selalu rapi dan berbau wangi. Rumah kontrakan kami selalu bersih, lantainya selalu mengkilap. Pemilik rumah kontrakan tidak lagi harus turun tangan menggosok lantai kamar mandi karena saya sudah dapat melakukannya sendiri. Setelah beberapa kali dicontohkan secara tidak langsung oleh pemilik rumah, barulah saya tahu cara menggosok lantai kamar mandi yang baik dan benar. Soal masak? Suami bilang saya sudah lebih pandai memasak. Tidak percuma ia rajin membelikan tabloid khusus resep masakan untuk saya pelajari. Tapi tentu saja saya tidak boleh merasa puas. Saya masih harus terus belajar dan belajar.. Mungkin ini lah salah satu rencana Allah menunda menganugerahkan kami seorang anak. Dia Maha Mengetahui kapan saat yang terbaik bagi kami untuk mendapat amanah seorang anak. Saat dimana saya telah menjadi isteri yang baik dan telah siap kembali belajar untuk menjadi Ibu yang baik…Tetap Semangat !
Bila Rumah Tangga Cinta Dunia
Oleh : KH Abdullah Gymnastiar
ManajemenQolbu.Com
”Dan tiadalah kehidupan di dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesunguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui” Al-Ankabut ayat 64
Seakan telah menjadi bagian yang sangat standar dari skenario kehidupan ini, bahwa hampirsepanjang rentang usia dunia hingga saat ini, betapa banyak orang yang selama hidupnya begitudisibukkan oleh kerja keras, peras keringat banting tulang dalm mencari penghidupan, persisseperti ketakutan tidak kebagian makan. Apa yang telah diperolehnya dikumpul-kumpulkan danditimbun dengan seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya.
Ada juga orang yang dalam hidupnya teramat merindukan penghargaan dan penghormatan, sehingga hari-harinya begitu disibukan dengan memperindah rumah, mematut-matut diri, membeli aneka asesori, dan sebagainya, yang semua itu notabene dilakukan semata-mata ingin dihargai orang.
Inilah fenomena kehidupan yang menunjukan betapa manusia dalam kehidupannya akan selaluberpeluang dekat dengan hawa nafsu yan merugikan. Oleh sebab itu, bagi siapa pun yang berniatmengayuh bahtera rumah tangga, hendaknya jangan membayangkan rumah tangga akan berolehkebahagiaan dan ketenangan bila hanya dipenuhi dengan hal-hal duniawi belaka. Karena, segala asesoris duniawi diberikan oleh Alloh kepada orang yang terlaknat sekalipun.
Sekiranya tujuan sebuah rumah tangga hanya duniawi belaka, maka batapa para penghuninya akan merasakan letih lahir batin karena energinya akan lebih banyak terkuras oleh segala bentukpemikiran tentang taktik dan siasat, serta nafsu menggebu untuk mengejar-ngejarnya terus menerus siang malam. Padahal, apa yang didapatkannya tak lebih dari apa yang telah ditetapkan Alloh untuknya. Walhasil, hari-harinya akan terjauhkan dari ketenteraman batin dan keindahan hidup yang hakiki karena tak ubahnya seorang budak. Ya, budak dunia !
Alloh ‘Azza wa jalla memang telah berfirman untuk siapa pun yang menyikapi dunia dengan caraapa pun : cara hak maupun cara bathil. “Hai dunia, titah-Nya, “ladeni orang yangsungguh-sungguh mengabdikan dirinya kepada-Ku. Akan tetapi sebaliknya, perbudak orang yanghidupnya hanya menghamba kepada-Mu” !
Rumah tangga yang hanya ingin dipuji karena asesoris duniawi yang dimilikinya, yang sibuk hanyamenilai kebahagiaan dan kemuliaan datang dari perkara duniawi, adalah rumah tangga yang pastiakan diperbudak olehnya.
Rumah tangga yang tujuannya hanya Alloh, ketika mendapatkan karunia duniawi, akan bersimpuhpenuh rasa syukur kehadiratnya. Sama sekali tidak akan pernah kecewa dengan seberapa pun yang Alloh berikan kepada-Nya. Demikian pun manakala Alloh mengamininya kembali dari tangannya, sekali-kali tidak akan pernah kecewa karena yakin bahwa semua ini hanyalah titipannya belaka.
Pendek kata adanya duniawi di sisinya tidak membuatnya sombong tiadanya pun tiada pernahmembuatnya menderita dan sengsara, apalagi jadi merasa rendah diri karenanya. Lebih-lebih lagidalam hal ikhtiar dalam mendapatkan karunia duniawi tersebut. Baginya yang penting bukanperkara dapat atau tidak dapat, melainkan bagaimana agar dalam rangka menyongsong hati tetapterpelihara, sehingga Alloh tetap ridha kepadanya. Jumlah yang didapat tidaklah menjadi masalah,namun kejujuran dalam menyongsongnya inilah yang senantiasa diperhatikan sungguh-sungguh.Karena, nilainya bukanlah dari karunia duniawi yang diperolehnya, melainkan dari sikapterhadapnya.
Oleh karena itu, rumah tangga yang tujuannya Alloh Azza wa Jalla sama sekali tidak akan silaudan terpedaya oleh ada atau tidak adanya segala perkara duniawi ini. Karena, yang pentingbaginya,ketika aneka asesoris duniawi itu tergenggam di tangan, tetap membuat Alloh suka.Sebaliknya, ketika semua itu tidak tersandang, Alloh tetap ridha. Demikian pun gerak ikhtiarnya akan membuahkan cinta darinya.
Merekalah para penghuni rumah tanggga yang memahami hakikat kehidupan dunia ini. Dunia,bagaimana pun hanyalah senda gurau dan permainan belaka, sehingga yang mereka cari sesungguhnya bukan lagi dunianya itu sendiri, melainkan Dzat yang Maha memiliki dunia. Bila orang-orang pencinta dunia bekerja sekeras-kerasanya untuk mencari uang, maka mereka bekerja demi mencari dzat yang Maha membagikan uang kalau orang lain sibuk mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama manusia, maka mereka pun akan sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan penghargaan dan pujian dari Dia yang Maha menggerakan siapapun yang menghargai dan memuji
Perbedaan itu, jadinya begitu jelas dan tegas bagaikan siang dan malam. Bagi rumah tangga yang tujuannya yang hanya asesoris duniawi pastilah aneka kesibukannya itu semata-mata sebatas ingin mendapatkan ingin mendapatkan yang satu itu saja sedangkan bagi rumah tangga yang hanya Alloh yang menjadi tujuan dan tumpuan harapannnya, maka otomatis yang dicarinya pun langsung tembus kepada Dzat Maha pemilik dan penguasa segala-galanya.
Pastikan rumah tangga kita tidak menjadi pencinta dunia. Karena, betapa banyak rumah tanggayang bergelimang harta, tetapi tidak pernah berbahagia. Betapa tak sedikit rumah tangga yangtinggi pangkat, gelar dan jabatannya, tetapi tidak pernah menemukan kesejukan hati. Memang,kebahagian yang hakiki itu hanyalah bagi orang-orang yang disukai dan dicintai oleh-Nya.
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yangmelalaikan, periasam dan bermegah-megahan diantara kamu, serta berbangga-bangga tentangbanyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menguning, kemudian menjadi hancur dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Alloh serta keridoannya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Q.S.Al-Hadid ayat 20].
Wallahu ‘alam
ManajemenQolbu.Com
”Dan tiadalah kehidupan di dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesunguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui” Al-Ankabut ayat 64
Seakan telah menjadi bagian yang sangat standar dari skenario kehidupan ini, bahwa hampirsepanjang rentang usia dunia hingga saat ini, betapa banyak orang yang selama hidupnya begitudisibukkan oleh kerja keras, peras keringat banting tulang dalm mencari penghidupan, persisseperti ketakutan tidak kebagian makan. Apa yang telah diperolehnya dikumpul-kumpulkan danditimbun dengan seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya.
Ada juga orang yang dalam hidupnya teramat merindukan penghargaan dan penghormatan, sehingga hari-harinya begitu disibukan dengan memperindah rumah, mematut-matut diri, membeli aneka asesori, dan sebagainya, yang semua itu notabene dilakukan semata-mata ingin dihargai orang.
Inilah fenomena kehidupan yang menunjukan betapa manusia dalam kehidupannya akan selaluberpeluang dekat dengan hawa nafsu yan merugikan. Oleh sebab itu, bagi siapa pun yang berniatmengayuh bahtera rumah tangga, hendaknya jangan membayangkan rumah tangga akan berolehkebahagiaan dan ketenangan bila hanya dipenuhi dengan hal-hal duniawi belaka. Karena, segala asesoris duniawi diberikan oleh Alloh kepada orang yang terlaknat sekalipun.
Sekiranya tujuan sebuah rumah tangga hanya duniawi belaka, maka batapa para penghuninya akan merasakan letih lahir batin karena energinya akan lebih banyak terkuras oleh segala bentukpemikiran tentang taktik dan siasat, serta nafsu menggebu untuk mengejar-ngejarnya terus menerus siang malam. Padahal, apa yang didapatkannya tak lebih dari apa yang telah ditetapkan Alloh untuknya. Walhasil, hari-harinya akan terjauhkan dari ketenteraman batin dan keindahan hidup yang hakiki karena tak ubahnya seorang budak. Ya, budak dunia !
Alloh ‘Azza wa jalla memang telah berfirman untuk siapa pun yang menyikapi dunia dengan caraapa pun : cara hak maupun cara bathil. “Hai dunia, titah-Nya, “ladeni orang yangsungguh-sungguh mengabdikan dirinya kepada-Ku. Akan tetapi sebaliknya, perbudak orang yanghidupnya hanya menghamba kepada-Mu” !
Rumah tangga yang hanya ingin dipuji karena asesoris duniawi yang dimilikinya, yang sibuk hanyamenilai kebahagiaan dan kemuliaan datang dari perkara duniawi, adalah rumah tangga yang pastiakan diperbudak olehnya.
Rumah tangga yang tujuannya hanya Alloh, ketika mendapatkan karunia duniawi, akan bersimpuhpenuh rasa syukur kehadiratnya. Sama sekali tidak akan pernah kecewa dengan seberapa pun yang Alloh berikan kepada-Nya. Demikian pun manakala Alloh mengamininya kembali dari tangannya, sekali-kali tidak akan pernah kecewa karena yakin bahwa semua ini hanyalah titipannya belaka.
Pendek kata adanya duniawi di sisinya tidak membuatnya sombong tiadanya pun tiada pernahmembuatnya menderita dan sengsara, apalagi jadi merasa rendah diri karenanya. Lebih-lebih lagidalam hal ikhtiar dalam mendapatkan karunia duniawi tersebut. Baginya yang penting bukanperkara dapat atau tidak dapat, melainkan bagaimana agar dalam rangka menyongsong hati tetapterpelihara, sehingga Alloh tetap ridha kepadanya. Jumlah yang didapat tidaklah menjadi masalah,namun kejujuran dalam menyongsongnya inilah yang senantiasa diperhatikan sungguh-sungguh.Karena, nilainya bukanlah dari karunia duniawi yang diperolehnya, melainkan dari sikapterhadapnya.
Oleh karena itu, rumah tangga yang tujuannya Alloh Azza wa Jalla sama sekali tidak akan silaudan terpedaya oleh ada atau tidak adanya segala perkara duniawi ini. Karena, yang pentingbaginya,ketika aneka asesoris duniawi itu tergenggam di tangan, tetap membuat Alloh suka.Sebaliknya, ketika semua itu tidak tersandang, Alloh tetap ridha. Demikian pun gerak ikhtiarnya akan membuahkan cinta darinya.
Merekalah para penghuni rumah tanggga yang memahami hakikat kehidupan dunia ini. Dunia,bagaimana pun hanyalah senda gurau dan permainan belaka, sehingga yang mereka cari sesungguhnya bukan lagi dunianya itu sendiri, melainkan Dzat yang Maha memiliki dunia. Bila orang-orang pencinta dunia bekerja sekeras-kerasanya untuk mencari uang, maka mereka bekerja demi mencari dzat yang Maha membagikan uang kalau orang lain sibuk mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama manusia, maka mereka pun akan sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan penghargaan dan pujian dari Dia yang Maha menggerakan siapapun yang menghargai dan memuji
Perbedaan itu, jadinya begitu jelas dan tegas bagaikan siang dan malam. Bagi rumah tangga yang tujuannya yang hanya asesoris duniawi pastilah aneka kesibukannya itu semata-mata sebatas ingin mendapatkan ingin mendapatkan yang satu itu saja sedangkan bagi rumah tangga yang hanya Alloh yang menjadi tujuan dan tumpuan harapannnya, maka otomatis yang dicarinya pun langsung tembus kepada Dzat Maha pemilik dan penguasa segala-galanya.
Pastikan rumah tangga kita tidak menjadi pencinta dunia. Karena, betapa banyak rumah tanggayang bergelimang harta, tetapi tidak pernah berbahagia. Betapa tak sedikit rumah tangga yangtinggi pangkat, gelar dan jabatannya, tetapi tidak pernah menemukan kesejukan hati. Memang,kebahagian yang hakiki itu hanyalah bagi orang-orang yang disukai dan dicintai oleh-Nya.
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yangmelalaikan, periasam dan bermegah-megahan diantara kamu, serta berbangga-bangga tentangbanyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menguning, kemudian menjadi hancur dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Alloh serta keridoannya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Q.S.Al-Hadid ayat 20].
Wallahu ‘alam
Langganan:
Postingan (Atom)
